Kepak Sayap Kekaryaan
Baliho raksasa Puan Maharani “Kepak Sayap Kebhinekaan” dipasang dengan begitu niat dalam jumlah yang kolosal. Nyastra sekali, neo-kekaryaan dan menarik.
Ini sempat ramai. Dibahas hampir semua kalangan, trending pula. Mantap Mbak Puan!
Mari belajar dari Puan dan kolega soal karya.
Mencipta suatu karya ga perlu tunggu bagus dulu. Ada dulu, jelek ga apa-apa. Pintarnya kalangan politisi itu selalu menemukan meta-meta ampuh untuk mengekspresikan keintiman dan mengatur sebuah interaksi layaknya seni.
Ya, baliho puitis itu masuk kategori karya menurut teman saya yang bekerja sebagai perancang rupa.
Beberapa “Pandemial” – sebutan untuk anak muda ketika pandemi menjadi ancaman yang serius bagi kehidupan mereka, cenderung ragu saat diminta menunjukan komitmen kekaryaannya.
Padahal, jika dielaborasi, simpul-simpul ini bisa jadi lokomotif utama menuju sesuatu yang signifikan. Bagaimana metaforaku? sekali lagi terima kasih Mbak Puan.
Kekaryaan di tingkat lokal (Kaltara), masih didominasi hal-hal yang bersifat sentimentil. Perdebatan lebih sering terdengar pada level-level praktis, bukan pada level ide atau gagasan.
Kalau sudah begini, mampuslah kita dikoyak-koyak teori.
Coba lihat Mbak Puan dan balihonya. Begitu pede nampang hampir di seluruh penjuru Indonesia, meski menurut beberapa pengamat baliho Puan tak mampu selamatkan elektabilitasnya.
Tapi, Mbak Puan pede kamu ga. Itu bedanya.
Bicara ihwal karya, bukankah membangun kesadaran identitas itu penting. Ya, mirip-mirip strategi Brand Awareness suatu produk. Tapi apa? kita malah sibuk berdebat karena beda.
Dalihnya menyampaikan kritik yang konstruktif tapi niatnya nyinyir, modusnya bagus. Padalah, Berbeda dalam karya itu biasa. Yang susah itu ihklasnya.
Karya itu sunnatullah, bergilir dan bergulir. Kalau hari ini karyamu dianggap norak, cuek aja. Besok belum tentu begitu. Kalau masih norak itu salahmu.
Kreativitas berbasis kultur urban sebetulnya bisa dibangun lewat komunitas dengan berekspresi, berkreasi mandiri dan informal di berbagai forum. Inilah yang membuat suatu daerah terlihat selalu kreatif, dinamis, dan selalu menciptakan terobosan segar.
Pemerintah daerah juga harus ikut dalam proses ekonomi kreatif dengan menumbuhkan komunitas kreatif melalui pendidikan dan penciptaan infrastruktur kota yang merangsang lahirnya ide kreatif. Tugas pemerintah daerah lebih bersifat teknis, ga boleh lebih.
Tapi gimana pemerintahnya mau niat kalau kitanya jual mahal. Ga perlu obral juga, yang penting untung.
Kalau saja semua lini kompak, mungkin kita bisa lebih terkenal dari Mbak Puan.
Yang musisi jadi ga sibuk coverin lagu orang, yang promotor ga susah nyari talent lokal, dan seterusnya.
Ayo belajar dari Mbak Puan…
Baliho Mbak Puan jadi bahan candaan di medsos, tapi orang-orang jadi pada sadar dan tau keberadaannya. Urusan baik dan ga baik itu urusan lain.
Mungkin kita hanya punya satu kesempatan untuk memulai karya. Tapi kita punya kesempatan berulang untuk memperbaiki karya. Ini rumusnya. Konsisten!
Mulai aja dulu, sisanya belakangan. Serahkan semua pada Tuhan Yang Maha Esa. Insya Allah surga.
Jangan terlalu banyak wacana. Kamu nunggu apa? nunggu Puan masuk Istana? (*)