“Batas Kota” : Sisi Sentimentil JBK
narahubung.id – Nostalgia bagi Jalan Batas Kota (JBK) adalah momen maha penting untuk mengumpulkan tiap fragmen yang tercecer menjadi satu gambar utuh dalam ingatan. Di tiap fragmen yang bergerak lembut lalu melahirkan sentimentilitas itu memang ada banyak duka.
Namun tiap duka mereka maknai sebagai berkah tanpa tanding yang pahitnya harus ditelan seutuhnya. Dan lagu baru berjudul “Batas Kota” bercerita soal itu. Tentang janji yang nyaris mengancam hidup tenggelam dalam keputusasaan bersama rasa gentar.
“‘Batas Kota’ adalah lagu untuk mereka yang keluar percaya bahwa cinta tak bisa dibunuh gentar sekalipun nasib tak berpihak pada kita. Cinta adalah berkah yang usianya jauh lebih panjang dari usia kita sendiri,” beber Krisna (vokal, gitar).
“Dengan catatan kita rawat baik-baik di ingatan, biar tak lekas keriput. Kami juga bicara harapan di sana,”
sambung Patralaringal (lead gitar).
‘Batas Kota’ adalah lagu single ke-2 JBK. Krisna, Patra, Ale (Synth), Balung (drum), Abas (Bass) mengemas sentimentilitas itu lewat gaya mereka sendiri, laiknya ‘Gadis Indie’ dan ‘Dimensi’ yang bermain di area Rock alternatif. Pandangan tentang nostalgia dan harapan tidak hanya dituangkan dalam lirik.
Mereka juga menaruhnya dalam elemen suara dalam lagu sepanjang 3:06 itu. Elemen synth yang hadir mulai hitungan 2:14 misalnya, penanda bahwa penantian dan harapan sama sekali tidak menakutkan meski hanya berjarak satu sentimeter dari jurang perpisahan.
Proses kreatif lagu ‘Batas Kota’ ini terbilang lama’ 1,5 tahun. Lagu ini direkam awal tahun 2020 di tengah pandemi yang memuncaki trending topic media sosial.
Di tengah kegagapan penanganan pandemi, anak- anak JBK banyak menghabiskan waktu dengan menonton film lama. “Gita Cinta dari SMA” dan “Cintaku di Rumah Susun” dua di antara sekian film yang disantap.
Dari dua film itu tiba-tiba mereka penasaran, bagaimana rasanya jatuh cinta, patah hati, nostalgia, dan menunggu seseorang jauh sebelum dunia mengecil dalam ponsel.
“Adegan penutup ‘Gita Cinta dari SMA’ sangat berkesan bagi kami. Galih mengejar terbenamnya matahari diiringi surat Ratna; iringilah kepergianku dengan senyuman walau hatimu tidak demikian’. Dari sana tema lagu muncul, rasanya mencintai atau meninggalkan itu tidak mudah,” sambung Abas.
Usai adegan itu Krisna membayangkan kisah cinta yang teman-temannya ceritakan lalu membawa lagu ke kamar kost Ale yang disulap menjadi studio rekaman. Ale juga ditunjuk sebagai engineer keseluruhan lagu ini. Setelah rampung, data dimixing mastering di Studio Kamar Malas milik Gatra Laringal (Gie).
Baru setengah jalan, data lagu dirusak virus di komputer. Sebagian masih bisa diselamatkan. Sebagian file yang hilang harus di-take ulang. Misalnya file gitar milik Patra yang harus diulang namun memakan waktu karena dia mengisinya dengan karakter gitar yang berbeda.
“Karena hobinya yang gonta ganti gitar. Kami memang sering sekali mengalami kendala saat proses
pembuatan lagu atau proses rekaman seperti ini,” katanya.
“Tapi dengan semangat merawat cita-cita yang sama maka segala halangan bisa dilalui agar karya tetap terlahir dari jiwa yang bahagia dalam menikmati proses,” tambah Ale.
Jalan Batas Kota dikenal sebagai band rock yang enggak rock-rock banget. Band ini diisi lima pemuda tanggung yang senang bermain di area Indie Rock lalu menambahkan sedikit dirty sound dan unsur pop seperti band pada umumnya. Mereka mendapatkan pengaruh besar dari The Adams, Morfem, Rumah Sakit, Weezer, The Smashing Pumkins dan band sejenisnya. (dc/nr)