Memelihara Tradisi Meja Panjang Di Tengah Pandemi

narahubung.id – Dalam rangka merayakan Natal dan Tahun baru, masyarakat Dayak Kenyah di Desa Pimping, Kecamatan Tanjung Palas Utara, Kabupaten Bulungan mengadakan tradisi adat meja panjang yang dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Sang Pencipta.

Tradisi meja panjang telah dilaksanakan sejak 1976 silam, secara rutin digelar setahun sekali dan setiap awal tahun. Karena pandemi COVID-19, tahun ini tradisi adat meja panjang dilaksanakan secara terbatas di Rumah Adat Lamin Pemung Tawai dengan menerapkan prokes yang ketat.

Akses interaksi dibatasi guna menghindari masyarakat dari penyebaran COVID-19. Berbeda dari biasanya, kali ini panitia menggunakan meja terpisah dengan panjang masing-masing 4 meter.

Total, ada sekitar 30 meja dengan ragam kuliner hasil swadaya masyarakat.

Gubernur Kalimantan Utara, Zainal A. Paliwang mengapresiasi atas terselenggaranya tradisi meja panjang tahun ini.

“Desa pimping ini sudah seperti rumah saya sendiri, ini kali ketiga saya hadir diperayaan tradisi meja panjang ini,” kata Zainal dalam sambutannya, Senin (3/12/2021).

Orang nomor satu di Bumi Benuanta ini menyebut tradisi meja panjang sebagai simbol pemersatu di tengah kemajemukan bangsa.

“Disamping itu kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi dari berbagai suku, sehingga menjadi ajang pemersatu dalam masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Adat Desa Pimping, Ajang Lajan mengemukakan bahwa makna tradisi meja panjang ini adalah mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberi nikmat rezeki di tahun sebelumnya.

“Ini mengibaratkan orang kaya dan orang miskin sama-sama turun kejalan, tidak ada pengungkapan itu semua sama, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah,” terangnya.

Berbagai tradisi budaya ditampilkan di even tahunan ini. Seperti tari-tarian, maupun pakaian tradisional. Untuk membiayai kegiatan ini, merupakan hasil dari swadaya masyarakat Desa Pimping.

“Kegiatan seperti ini harus dilestarikan. Bukan hanya kegiatan pesta adat meja panjang saja, tapi desa Pimping itu juga banyak sekali daya tarik wisata seperti air terjun La’as dan lainnya,” imbuhnya.

Selain memberikan manfaat untuk mengumpulkan warga, tradisi meja panjang juga bisa menjadi objek wisata yang bermanfaat bagi perekonomian masyarakat.

“Kegiatan ini sangat kita apresiasi, karena meski hanya menggunakan dana swadaya masyarakat setempat, bisa dilaksanakan secara sederhana dan meriah ditengah pandemi ini,” pungkasnya. (rhl/nr)

Berita Lain