‘Aroyo Yaroyoyo’ Syair Tentang Pantangan Suku Dayak Ma’lung

narahubung.id – Dayak Kenyah Ma’lung di Desa Pimping, Kecamatan Tanjung Palas Tengah memiliki syair sejak dahulu kala yang ditinggalkan oleh nenek moyang.

‘Aroyo Yaroyoyo’ merupakan syair dari bahasa Dayak Ma’lung yang ditampilkan pada perayaan tradisi meja panjang di Desa Pimping, Kecamatan Tanjung Palas Utara, Bulungan.

Syair ini bercerita soal pantangan dan pertanda akan bahaya yang dipelajari masyarakat dengan melihat tanda-tanda alam dan hewan.

Hal itu diungkapkan oleh Tokoh Adat Desa pimping, Suel bahwa nenek moyang zaman dahulu banyak memiliki pantangan saat ingin bepergian ke kebun dan berburu.

“Burung terbang kekiri, tidak boleh melintas, burung elang terbang kekiri juga tidak boleh lewat, ada satu hewan sejenis kijang kalau dia bilang ‘hu hu’ tidak boleh, kalau dilawan akan mendatangkan bahaya,” jelas Suel kepada narahubung.id usai menghadiri tradisi meja panjang di Desa Pimping, Senin (3/12/2021).

Kemudian ia juga menerangkan bahwa dahulu nenek moyang mereka mempercayai burung sebagai manifestasi kepercayaan.

“Artinya mereka nenek moyang dulu mempercayai burung, sekarang telah ditinggalkan, mereka mempercayai Yesus yang dirayakan hari ini, untuk sekarang tidak ada pantangan lagi, yang penting beriman,” imbuhnya.

Ia juga mengungkapkan kegembiraan atas terlaksananya meja panjang tahun ini, karena hampir setahun tidak dilaksanakan akibat pandemi COVID-19.

“Ini perayaan syukuran yang luar biasa, karena selama ini kan tidak bisa, jadi rasa syukur itu harus ada. Di dalam ayat Alkitab ada mengatakan bersyukurlah senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus kepada Allah dan Bapa kita,” pungkasnya. (rhl/nr)

Berita Lain