Makna Datun Julud Bagi Masyarakat Dayak Oma Alim
narahubung.id – Di Desa Pejalin, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, ada tradisi adat yang digunakan masyarakat dayak oma alim pada upacara perayaan syukuran setelah panen. Yakni, tradisi datun julud yang diterjemahkan sebagai bentuk rasa syukur kepada tuhan dan leluhur moyang atas apa yang diberi.
Tradisi yang sering dilakukan masyarakat Desa Pejalin sejak dahulu kala ini berupa nyanyian dengan lirik berbahasa dayak kenyah serta diiringi tarian yang membentuk lingkaran untuk menyambut tamu yang hadir.
Asang Pangut, Tokoh Masyarakat Desa Pejalin mengatakan, lirik dari Datun Julud memiliki beberapa jenis. Mulai dari lirik pembukaan hingga penutupan yang berbeda.
“lirik yang pertama itu saat pembukaan atau pertama bertemu dengan liriknya yang berbeda, terus ketika saat acara berlangsung juga berbeda lirik dan makna, selanjutnya yang terakhir ada lirik penutup yang juga memiliki lirik yang berbeda. Istilahnya kita mengucap salam perpisahan dengan nyanyian,” kata Asang Pangut kepada narahubung.id, Senin (30/5/2022).
Bahkan, dalam penggunaan lirik Datun Julud tersebut, masyarakat desa Pejalin bukan menggunakan bahasa Dayak Oma Alim yang mendiami Desa Pejalin, justru menggunakan bahasa dayak umum yaitu Dayak Kenyah.
“Kalau kita nyanyi seperti ini. Seperti salah satu lirik yaitu, malam ini lah awal kita bertemu, kita bersilaturahmi, jadi kalau untuk tamu yang pertama kali bertemu untuk penyambutan tamu,” jelasnya.
Untuk tradisi Datun Julud sendiri, ia menyebut bahwa telah dilakukan oleh leluhur terdahulu sejak masih berada di hulu sungai, sebelum berimigrasi ke desa Pejalin.
“Dengan berkembangnya zaman saat ini, tradisi ini sudah tidak populer lagi dan banyak ditinggalkan. Mangkanya, dari itu kami coba menghidupkan kembali khususnya untuk anak muda di Desa Pejalin,” ucapnya.
Saat ini, masyarakat adat berharap budaya seperti ini bisa terus dilestarikan. Dalam hal ini adat berupaya terus melibatkan anak muda yang ada di desa Pejalin untuk terus berpartisipasi pada kegiatan-kegiatan adat yang ada.
“Mangkanya kita libatkan anak muda, tujuannya untuk regenerasi budaya agar bisa di lanjutkan oleh anak-anak muda dan terus berupaya membangkitkan semangat kecintaan terhadap budayanya. Karena, sekarang anak muda banyak kesibukkan lain, oleh karena itu kita coba menghidupkan kembali budaya ini agar bisa berkesinambungan terus,” tutupnya. (rhl/nr)