Keluarga Korban Laka Laut Sebut Ada Kejanggalan
narahubung.id – Kecelakaan laut yang terjadi di Kota Tarakan tepatnya di sekitar perairan Mamburungan yang mengakibatkan tiga nyawa melayang dianggap janggal oleh pihak keluarga.
Salah seorang keluarga korban meninggal Rizki, Ani Fatmawati yang hadir saat pres rilis digelar mengungkapkan, pihak keluarga merasa belum bisa menerima semua fakta yang dibeberkan aparat kepolisian atas kejadian tersebut.
“Yang menjadi keberatan dari pihak keluarga dari kasus ini, pertama kejadian, aparat penyelidik mengatakan kasus tersebut adalah laka laut murni. Dan belakangan diketahui ini ada unsur kelalaian yang mengakibatkan kedua speedboat terlibat tabrakan,” katanya kepada awak media, Senin (11/7/2022).
Kecurigaan pihak keluarga bermula saat melihat luka pada salah satu korban bernama Agus di mana terdapat tulang rahang yang patah, kepala sobek, gigi hancur, lalu ada luka di telapak tangan, luka itu seperti hendak menahan benturan benda keras.
“Ini versi saya ya, seperti menahan benda tajam sampai jari tangan terbelah,” ucapnya.
Kemudian korban Kedua, Arfan ditemukan, terdapat luka sayatan di bagian paha, bagian pinggul yang hampir putus, terus kepalanya tidak berbentuk.
Dikatakan saat kejadian tersebut, Handphone dari korban kedua Arfan ini sempat aktif, sekitar pukul 06.30 sore sampai jam 01.00 malam, itu ditelepon masih aktif. Kondisi air pada waktu kejadian tenang, karena ada jam tertentu air laut gelombang.
“Karena saya ikut mencari dari jam satu malam sampai jam lima subuh,”bebernya.
Pada saat dilakukan otopsi bulan Maret 2022. Dia, beserta keluarga ikut menyaksikan. Diketahui banyak tulang yang patah, seperti tulang belakang, tengkoraknya bolong, terus di dagunya terbelah, tulang panggul, betis dan pahanya patah.
“Pada tumit sebelah kiri yang ada luka sayatan, serta luka cabik-cabik. Pasalnya itu terkena benda tumpul, berarti kan ada tindak kejahatan ya, di situ. Jadi kalau dikatakan ini murni laka laut, saya sebagai orang tuanya Alm Rizki, itu keberatan,,” Ucapanya.
Untuk mencari keadilan dan supaya kasus ini terang benderang, dia sudah menyambangi Polres Tarakan, Polda Kaltara sampai ke Mabes Polri untuk mencari keadilan atas kasus yang menimpa anaknya.
Meskipun dalam kasus ini, motoris yang terlibat kecelakaan ini sudah diamankan dengan dikenakan jerat hukum, karena telah menghilangkan nyawa orang pihak keluarga tidak menerima begitu saja.
“Disini saya benar-benar meminta keadilan untuk anak saya. Kalau masih dikatakan itu laka laut, saya masih belum Terima, ” tegasnya.
Kalau sejak awal diketahui speedboat tersebut terlibat kecelakaan, kenapa tidak langsung melaporkan ke aparat. Termasuk mempertanyakan itikad baik dari pemilik speedboat, yang anak buahnya selamat dalam kasus ini.
“Kenapa pada waktu kami menyambangi Polair Tarakan, meminta kejelasan kasus ini ,kok malah dinyatakan murni laka laut. Kan sumbang dengan keadaan jenazah yang ditemukan. Kenapa tidak melapor Seandainya itu tubrukan, mestinya mereka harus bertanggung jawab dan terima konsekuensi. Kalau dibiarkan begini, kan patut dipertanyakan, sebenarnya ada apa dengan kasus ini, kok seperti ditutup-tutupi,” ucap dia mempertanyakan.
Sementara itu, Kapolda Kaltara, Irjen Pol Daniel mengatakan, saat ini, pihak kepolisian menyimpulkan berdasar bukti yang ditemukan. Mulai dari kejadian, hasil deteksi radar navigasi, hingga hasil otopsi dari ahli forensik.
“Saksi pun melihat disekitar TKP yang dilihat adalah bentuk tabrakan. Kita tidak bisa melihat, namun demikian kita hanya mendasari penyebab kematian adalah seperti itu. Bahkan, kakinya hancur seperti itu. Kemudian dikuatkan dengan keterangan ahli dari dokter,” tukasnya.
Pada perkara kasus ini, penyelidikan terus berkembang. Ketika terjadi dugaan, pihak kepolisian membuktikan dengan bukti yang mendukung sesuai yang diperoleh.
“Kita mendasari dari hasil otopsi, kita tidak bisa berandai andai, hasilnya memang seperti ini. Ini diduga karena benda tumpul yang pipih dalam kecepatan tinggi, kemungkinannya seperti itu, dan yang memungkinkan seperti itu,” jelasnya. (rhl/nr)