LGBT Prioritas Surveilans, Diskriminatif?

narahubung.id – Pernyataan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) soal surveilans ketat kepada kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) bagi penularan cacar monyet atau monkeypox dinilai kurang tepat dan diskriminatif.

Kemenkes diminta melakukan surveilans kepada seluruh kelompok masyarakat yang datang dari luar negeri, bukan hanya kepada kelompok tertentu.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan kaltara, Usman menyebut bahwa hal yang dilakukan Kemenkes bukan diskriminasi, melainkan tindakan prioritas kepada kelompok-kelompok yang beresiko.

“Bukan, ada beberapa yang mereka berpotensi ya. Artinya kan, mereka ada kelompok-kelompok beresiko, kalau dalam istilah penyakit menular, atau penyakit menular seksual itu ada kelompok-kelompok beresiko dan kelompok rentan,” kata Usman kepada narahubung.id, Rabu (3/8/2022).

Dalam hal ini pihaknya mengantisipasi penyebarannya melalui beberapa kelompok yang rentan dan beresiko. Namun, lebih ke pemantauan, bukan berarti melalaikan pemantauan ke lainnya.

“Bukan berarti ini ada diskriminasi, itu tidak. Di dalam penyakit-penyakit tertentu itu ada kelompok-kelompok sasaran yang kita prioritaskan untuk di pantau, bukan yang lainnya berarti tidak,” ungkapnya.

Dalam penularan cacar monyet sendiri, pihak dinkes kaltara secara pasti masih melakukan kajian terkait penularannya.

“Ini kan masih macam-macam ya pola penularannya, terutama terkait informasi di medsos dan semacamnya bahwa penyakit ini ditularkan oleh kelompok-kelompok tertentu. Nanti kita akan liat perkembangan selanjutnya,” ujarnya.

Selain itu, mengantisipasi penularan tersebut Dinkes Kaltara melakukan monitoring terkait laporan-laporan yang diterima dari Dinkes Kabupaten/Kota dan Rumah Sakit.

“Kita juga ada program untuk memantau dan mendeteksi dini penyakit yang menular, apakah dari luar dan dalam negeri, bepotensi menjadi kejadian luar biasa itu ada,” sebutnya. (rhl/nr)

Berita Lain