Jeritan Peternak Sapi Lokal yang Merugi

narahubung.id – Hari raya Idul Adha 1444 Hijriyah/2023 telah dilalui umat muslim di seluruh dunia. Suasana bahagia berkurban dan berbagi kepada sesama pun masih terasa menyelimuti umat muslim di tanah air.

Namun, di momen kurban tahun ini begitu berat untuk dilewatkan oleh peternak sapi lokal asal kota Tarakan, Kalimantan Utara. Pasalnya, para peternak ini menjerit karena mengalami kerugian parah akibat masuknya sapi dari luar daerah dengan harga murah.

Peternak sapi lokal Tarakan, Makmur mengungkapkan kenyataan yang dialaminya dan kawan-kawan peternak lokal lain. Makmur merasa ada persaingan yang tidak sehat soal distribusi sapi dari luar ke Tarakan di detik-detik akhir menjelang hari raya kurban.

“Ibaratnya sapi anakan saya beli harga 27 Juta, lalu dipelihara sekian bulan, sekian tahun dan dijual kembali dan bersaing dengan harga sapi luar dengan harga 22 juta. Ini persaingan tidak sehat yang merugikan bagi peternak sapi lokal,” kata Makmur kepada narahubung.id, Jumat (7/7/2023).

Ia mengatakan, bahwa peternak sapi lokal telah memelihara sapi sekitar 1 tahun, bahkan 3 tahun lamanya dengan adanya biaya makan. Kemudian dijual pada pembeli di momen Idul Adha.

“Karena jual hewan ternak kurban ini musiman. Kami ini satu-satunya harapan ekonomi nya hanyalah ternak sapi, tapi kalau seperti itu bukan lagi angkat kaki. Tapi, ikat kaki, terus terang saya tidak bisa bergerak,” ujarnya.

Dalam hal ini, pemerintah melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) kota Tarakan dan Provinsi Kaltara seharusnya memiliki regulator dalam volume barang. 

“Saya meyakini hingga hari ini, Dinas Peternakan tidak memiliki data berapa ketersediaan sapi lokal kita sebelum memasukkan hewan ternak kurban dari luar,” bebernya

Menurutnya, pada momen Idul Adha tahun ini, rata-rata peternak lokal di Tarakan paling banyak menjual 1 hingga 2 ekor sapi saja. Bahkan, ada yang tidak laku.

“Itu tadi, makanya pedagang dari luar mestinya jangan di detik terakhir jelang Idul Adha memasukkan sapi ke Kaltara. Kalau mau bersaing sehat ayo, tampilkan 3 minggu sebelum Idul Adha. Atau kalau perlu 1 bulan, jadi kita bersaing sehat,” tegasnya.

Pada kejadian ini, pihaknya tidak mengetahui secara pasti harga sapi yang beredar dari luar. Namun, kecendrungan pedagang dari luar itu memiliki harga yang murah.

“Hewan sapi kurban yang beredar di Tarakan pada Idul Adha 2023 ini 90 persen dari pedagang luar,” ungkapnya.

Pria yang telah 13 tahun beternak sapi ini berterus-terang bahwa sudah tidak sanggup lagi memberi makan kepada hewan ternaknya. Sebab, harus membayar orang setiap harinya untuk memberi makan.

“Bayangkan kalau satu mobil pickup itu saya harus bayar orang mengarit rumput sehari 100 ribu, sebulan sudah 3 Juta, dikalikan 12 bulan kedepan karena tidak laku, ya merugi. Sekarang ini tarik nafas aja saya sudah susah,” ungkapnya.

Selain itu, peternak sapi lokal lainnya, Hardianto menduga ada keterlibatan oknum dalam memasukan sapi ke Kaltara. Hal ini terlihat dari masifnya sapi dari Gorontalo dengan jumlah banyak.

“Kalau sapi dari Gorontalo ini bisa masuk tanpa batas jumlah. Pengirimannya kalau boleh dikata berulangkali. Sedangkan, kalau dari wilayah lain seperti Sulawesi Tengah ini dipersulit. Dipersulitnya ini lantaran ada oknum yang meminta jatah ataupun fee,” terangnya.

Terkait orderan dari peternak lokal sial pengiriman sapi dari luar dipersulit keberangkatannya, apalagi pengurusan berkas-berkasnya.

“Sepengetahuan saya selama ini, ada oknum yang bermain untuk memasukkan sapi dari luar dengan nominal puluhan juta,” ungkapnya.

Karena kejadian ini, Hardianto mengalami kerugian dalam pemeliharaan sebesar Rp 17 Juta. Ia sebagai peternak dan pedagang kecil merasa dikesampingkan.

“Nah informasi yang saya terima dari salah satu oknum untuk pengiriman ke Kaltara itu harus mengeluarkan fee belasan juta. Sedangkan saya pengusaha kecil. Bahkan, tahun ini saya tidak bisa mendatangkan sapi, saya mengalami kerugian,” bebernya.

Ia pun berharap, kedepan pedagang luar yang bukan berdomisili di Kaltara bisa menaati aturan yang berlaku. Sebab, hal ini merugikan banyak peternak lokal.

“Harapan saya, kedepan pedagang luar yang bukan berdomisili di Tarakan atau Kaltara jika membawa sapi ke sini harus mendirikan tempat. Info yang saya dapat ada 5 orang pedagang luar dari Gorontalo yang saya tau. Bikin ketentuan agar tidak mengecer ke masyarakat, kecuali dia bisa mengecer ke pedangang atau peternak lokal,” tutupnya.

Sementara itu, saat ini tim narahubung.id sedang berupaya meminta komentar dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kota Tarakan dan Provinsi Kaltara terkait hal ini. Namun, hingga berita ini dimuat belum ada respon dan penjelasan resmi dari dinas tersebut. (rhl/nr)

Berita Lain