Beringin 4 Terbakar 4 Jam
TARAKAN – Kebakaran kembali terjadi di wilayah pesisir Kota Tarakan, Provinsi Kaltara. Kali ini, kebakaran terjadi di RT 1 dan RT 3 Beringin 4 Kelurahan Selumit Pantai, Tarakan Barat.
Peristiwa yang terjadi pada Minggu (6/8/2023) ini diperkirakan bermula pada pukul 02.00 WITA. Tampak dari pantauan, Beringin 4 diamuk oleh si jago merah selama 4 jam dan menghanguskan ratusan rumah yang dihuni sekitar 500-an jiwa.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tarakan, Yonsep mengatakan, Sebanyak 150 kepala keluarga (KK) di RT 1 dan RT 3 Beringin 4 Kelurahan Selumit Pantai menjadi korban kebakaran. 58 rumah di RT 1 dan 63 rumah di RT 3 yang terbakar.
“Untuk angka pasti akan di-update lebih lanjut karena data sifatnya dinamis. Sumbernya dari RT dan lurah masih proses verifikasi data termasuk yang menumpang dan mengontrak,” kata Yonsep kepada awak media, Minggu (6/8/2023).
Setelah pertemuan secara teknis, pihaknya mengungkap semua alur informasi hanya melalui BPBD. Untuk posko penampungan korban kebakaran dipusatkan di halaman Masjid Al-Maarif, Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Selumit, Tarakan Tengah.
Sementara tugas Satpol PP, TNI dan Polri mengamankan lokasi kebakaran dan lokasi pengungsian. Sementara koordinator terkait donasi, merupakan kewenangan di Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Tarakan. Tak hanya itu, Lantamal XIII Tarakan turut menyiapkan tenda pengungsian.
“Kami masih melihat kondisi apakah korban terdampak akan banyak menuju lokasi pengungsian. Tenda satu ada tenda utama. Kemudian untuk logistik ditempatkan di panggung Masjid Al-Maarif, ” ungkapnya.
Ada juga petugas PMI Tarakan yang bersiaga untuk menyediakan berbagai macam medis. Meski ada beberapa korban yang mengungsi di tempat keluarga, pihaknya terus mengoptimalkan penyaluran bantuan.
“Biasanya mereka banyak di tempat keluarga. Kami dapatkan ada yang keluarganya menyatakan siap mengambil. Untuk hal ini, sekalipun tidak mampu, harus dimaksimalkan di situ,” ucapnya.
Alasan tempat pengungsi di Masjid Al-Maarif karena sudah tersedia air bersih dan toilet yang bisa digunakan korban kebakaran. Bahkan, pihak Perumda Air Tirta Alam Tarakan juga siap mendistrubusikan air.
“Tadi pagi Baznas sudah drop nasi kuning dan nasi putih di lokasi. Siang fokusnya di tenda pengungsian. Bantuan makan didistribusikan saat tenda sudah dibuat. Dinsos juga sudah siapkan relawannya untuk mobilisasi penerimaan bantuan,” bebernya.
Sementara itu, Aris, salah seorang yang diduga rumahnya merupakan awal mula api mengatakan, ia saat itu sedang tidak berada di rumah.
Sekira pukul 02.24 Wita, ia ditelpon sepupunya, rumah sudah terbakar. Namun usai kebakaran, ia diceritakan oleh istrinya, Ulfi Novayanti.
“Posisinya itu istri saya di rumah sama tiga anak saya. Tiba-tiba sekitar jam 02.00 Wita lewat lampu mati. Istri saya di kamar paling belakang. Istri saya kira cuma mati lampu biasa dan megang handphone yang ada senternya,” ujarnya.
Selang beberapa menit kemudian, istri korban merasakan panas di bagian dinding rumah sebelah kanan. Saat pintu kamar dibuka, istrinya sudah melihat kepulan asap tebal. Setelah itu, istri korban membangunkan anaknya yanh sedang tidur.
“Istri saya habis itu lari ke belakang rumah. Disitu dia belum lihat api, cuma asap. Habis ngetok pintu dapur tetangga, istri saya lari ke tempat sepupu, tidak jauh dari sini,” ungkapnya.
Sementara itu, tetangga Aris, Isnaini mengaku, dibangunkan tetangga saat kebakaran. Usai keluar rumah, ia sudah melihat gumpalan asap tebal. Namun saat itu ia membangunkan ketiga anaknya untuk keluar rumah.
“Habis itu saya dengar, ada yang ngetok pintu dapur. Posisi sudah ada mba Ulfi minta tolong. Saya juga langsung keluar. Tapi api sudah besar. Ufi juga lari dan panik bawa anaknya,” tutupnya.

