Aksi Refresif Polisi, Aliansi Mahasiswa Akan Kembali Geruduk Polres Tarakan
TARAKAN – Tindakan refresif kepolisian terhadap aksi Mahasiswa Aliansi Peduli Demokrasi (Apirmasi) menyebabkan luka-luka. Tampak beredar kiriman di grup-grup WhatsApp video pemukulan dari aparat terhadap mahasiswa.
Aksi tersebut berjalan ricuh hingga terjadi kontak fisik antara pihak kepolisian dan massa aksi. Tindakan refresif kepolisian itu memicu aliansi mahasiswa yang berencana untuk kembali ke Polres Tarakan.
Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ainuliansyah menyebut, terdapat 5 orang mahasiswa yang diduga mendapat tindakan represif dari aparat kepolisian. Ia juga mengaku sempat mendapatkan kontak fisik dan diseret oleh aparat.
“Saya sempat diseret dan sempat dapat menghubungi fisik. Ini jadi perhatian bersama, bahwa tidak ada tindakan humanis sebagaimana yang seharusnya dilakukan oleh aparat kepolisian,” katanya, Jumat, (23/072024)
Ditambahkan Fauzi dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), pihaknya berencana menggelar aksi di Polres Tarakan. Massa aksi merasa tidak terima atas perlakuan pihak kepolisian, sebab tindakan yang dilakukannya akan selalu mendapat tindakan represif karena aparat tidak profesional dalam mengamankan aksi tersebut.
“Kami pastikan ada (demo ke Polres). Karena kami tidak terima, teman-teman kami ada yang berdarah dan pecah kepalanya,” lanjutnya.
Kendati begitu, ditanyai soal bentuk kontak fisik tersebut, ia belum mengetahui pasti apa yang dilakukan oleh aparat kepolisian.
“Kami juga tidak tahu (diapain), karena massa aksi ini berdesakan,” tambah Ozy.
Sementara itu, Kapolres Tarakan, AKBP Adi Saptia Sudirna mengungkapkan, ia mengerahkan 317 personel yang terdiri dari 232 anggota Polres Tarakan dan 85 personel Satbrimobda Kaltara. Menurutnya, menyampaikan unjuk rasa berlangsung kondusif, meski sejumlah aparat keamanan ikut rusak.
“Ada anggota kami yang mengalami luka, di bagian kening dan jari pada saat pengamanan tadi. Ada sekitar lima anggota kami yang terluka, kena lemparan ada juga. Kondisinya aman karena sudah diobati,” katanya.
Ia menyebut anggotanya terluka karena adanya dorong-dorongan antara masa aksi dengan pihak kepolisian. Kata dia, beberapa massa aksi juga melakukan pelemparan yang mengenai anggotanya.
Ia juga membenarkan adanya aksi massal yang diamankan, namun bukan untuk diintimidasi atau diberikan tindakan represif.
“Itu tidak diamankan. Dia terluka, dan kami membawa ke mobil kesehatan. Lalu dikembalikan (ke barisan massa aksi),” jelas perwira melati dua itu.
Kapolres juga membantah adanya massa aksi yang terluka hingga mengalami luka dibagian kepala. Menurutnya, hal itu hanyalah luka pada umumnya dan tidak perlu dilebih-lebihkan. Ia pun mengklaim juga telah melakukan pengamanan sesuai dengan prosedur.
“Sudah sesuai SOP kami, ada negosiator juga dan mereka menyampaikan aspirasi kita melakukan pengamanan,” tutup Kapolres.