Di Balik Layar Corona

Winona Umacina
Winona Umacina

Penulis : Winona Umacina

Pandemi Covid-19 menjadi bintang utama pada tahun 2020. Virus yang dipercaya bermula dari Wuhan ini telah mengubah hampir semua aspek kehidupan manusia di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Beberapa dampak di antaranya adalah stabilitas ekonomi yang terganggu, perubahan pola hidup sehari-hari yang memaksa kita melakukan segala sesuatunya dari rumah, hingga roda pacu di masing-masing negara dalam mengatur setiap kebijakannya.

Tidak terkecuali dampaknya pada pendidikan. Lantas, bagaimana wujud kegiatan belajar mengajar (KBM) di Indonesia selama pandemi? Apakah dengan memberikan kuota internet sebesar 50 GigaByte mampu mengatasi kendala yang dihadapi para pelajar?

Generalisasi Pemerintah yang Terpusat

Sejak pandemi diumumkan pada Maret 2020, pemerintah menetapkan kebijakan untuk melakukan KBM secara virtual. Bagi generasi Z, teknologi bukan hal yang sulit untuk dipelajari, namun efektivitas dari belajar daring ini memberikan hasil yang tidak merata di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri masih banyak sekolah-sekolah yang berlokasi di daerah yang tidak terjamah oleh internet yang mumpuni. Keputusan pemerintah tentu tidak terlepas dari acuannya pada lembaga pendidikan yang berlokasi di kota-kota besar sebagai sampel dari keseluruhan sekolah yang ada di Indonesia.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik, Indonesia memiliki lebih dari 179.000 sekolah dan 33.000 di antaranya sudah dialiri listrik namun tanpa internet, dan sekitar lebih dari 7.500 lainnya tidak difasilitasi oleh kedua hal tersebut. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, bahkan telah menggeser anggaran sebesar Rp 3,2 triliun untuk sekolah-sekolah yang terdampak terutama yang berada di wilayah 3T (terdepan, terpencil, dan terluar). Namun, hal ini tidak membawa dampak yang signifikan mengingat sistem pendidikan dan kurikulum di Indonesia sangat berfokus pada sekolah tatap muka daripada belajar jarak jauh atau homeschooling. 

Jika melihat linimasa di berbagai media sosial, permasalahan yang dialami pelajar di kota besar meliputi kemampuan adaptif siswa dan daya serap terhadap materi yang diberikan. Tetapi, bagaimana dengan pelajar dari daerah yang jauh dari kata “kota besar”? Orang tua yang harus melakoni peran ganda untuk belajar menggunakan telepon genggam, mengunduh dan memasang aplikasi pendukung, hingga membantu anaknya mengerjakan PR yang diberikan. Padahal, tujuan dari para orang tua ini menyekolahkan anaknya adalah agar mendapatkan pendidikan yang bagus dan bisa memiliki masa depan lebih baik dari mereka yang mungkin sebagian besarnya hanya lulusan SD atau SMP. Tidak sedikit dari mereka yang mau tidak mau meminta bantuan kerabat atau tetangga yang lebih melek teknologi untuk membantu anaknya bisa sekolah daring. Bahkan ada pula yang harus meminjam ponsel genggam untuk sekolah.

Tidak hanya perihal tetek bengek perangkat tapi juga jangkauan internet yang menjadi faktor kelancaran sistem belajar mengajar daring. Para orang tua yang tidak terpapar perkembangan teknologi mungkin hanya berpikir ponsel apapun bisa digunakan untuk sekolah daring selama itu berlabel ponsel pintar dan ada kameranya. Pengetahuan mengenai perangkat lunak hingga laman-laman rujukan para guru tentu menjadi dongeng yang tidak dimengerti oleh para orang tua yang sehari-harinya hanya bolak-balik sawah atau kebun. Hal ini tentu menjadi problematik karena secara tidak langsung memaksa para orang tua menyisihkan waktu mereka untuk menjadi “guru sekolah daring” di rumah. 

Pemerataan sudah menjadi wacana yang juga ikut berganti periode. Ditambah dengan adanya pandemi, hal tersebut menjadi semakin tervalidasi bahwa memang daerah pelosok masih jauh dari kata “cukup”, salah satunya pada aspek pendidikan. Setidaknya, pandemi Covid-19 ini mendorong pemerintah untuk semakin memperhatikan kurikulum pendidikan dan melihat kegiatan belajar dari rumah atau belajar daring dapat menjadi alternatif KBM di masa depan ketika krisis melanda. 

Dari Pandemi Kita Tahu, Dari Pandemi Kita Belajar

Pandemi memang membatasi kita untuk beraktivitas fisik seperti tahun-tahun sebelumnya, namun pandemi juga membuka mata untuk melihat masih banyak kekurangan di negeri ini apalagi jika kita sudah berbicara daerah 3T. Kegiatan volunteering mengajar sudah sering dilakukan oleh banyak institusi baik dari pemerintah maupun non pemerintah untuk sekedar memperkenalkan “dunia luar” yang ada di luar desa atau kampung mereka. Lagi-lagi tidak ada perubahan yang signifikan dan tetap saja memperlihatkan gap antara pelajar kota besar dan pelajar kampung. 

Pandemi juga mengajarkan kita pentingnya akses baik untuk mobilitas maupun aktivitas dari daerah pinggiran ke daerah terpusat dan vice versa. Pendidikan khususnya, orang tua yang hanya tahu mengajar cara bertahan hidup, mau tidak mau memaksa diri untuk melek teknologi untuk mengajarkan ilmu pengetahuan. Ada yang bisa dan bertahan, ada juga yang menyerah lalu berhenti. Lantas, apakah harus dengan krisis yang terus menerus, pemerintah baru akan memperbarui sistem pendidikan yang merata untuk semua masyarakatnya? (*)

Berita Lain