Dongkrak Perekonomian Desa, BUMDes AM Garap Wisata Mangrove
TANJUNG SELOR, narahubung.id – Kabupaten Bulungan punya lokasi ekowisata mangrove terbaru, tepatnya di Desa Ardi Mulyo, Kecamatan Tanjung Palas Utara.
Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) AM, Yosran Efendi mengatakan Desa Ardi Mulyo sudah merencanakan pembangunan ekowisata mangrove sejak 2018 lalu.
“Merencanakan mangrove itu dimulai dari RPJMDes (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa) 2018. Tim 7 menggali potensi desa, menyusun model programnya kemudian diurutkan sesuai prioritas di Musdes Ardi Mulyo. Didoronglah Desa Ardi Mulyo ini menjadi desa wisata berbasis pertanian, sehingga selain mangrove program besarnya membuat kebun buah yang di dalamnya juga dipenuhi fasilitas spot foto, kolam renang dan kolam mini,” ujarnya, Jumat (3/6/2020).
Yosran menjelaskan, BUMDes AM memulai programnya pada tahun 2019 dengan fokus utama membangun mangrove diatas tanah seluas kurang lebih 14 hektare (ha), kebun buah 10 ha serta membuka area wisata untuk bermain anak.
Ekowisata mangrove sendiri dibangun dengan lebar 2 meter dan panjang 305 meter ditambah gazebo didalamnya.
“Inisiatifnya didorong sama pemuda atau sarjana pulang kampung untuk mengisi pemerintahan yang dimulai dari RPJMDes sampai masuk ke pemerintahan saat ada pembukaan pendaftaran aparatur desa,” imbuhnya.
Di Ardi Mulyo sendiri kata Yosran masih banyak potensi yang belum berhasil dimaksimalkan. “Sehingga periode ini didorong di gerakan wisata. karena desa ini jumlah penduduknya hanya kurang lebih 700-an orang dan 210 KK (Kepala Keluarga). Maka dharapkan dengan adanya wisata dapat mendorong mendatangkan orang ke desa dan mengakibatkan adanya perputaran uang di Ardi Mulyo,” kata dia.
Yosran melanjutkan, meski wisata merupakan program utama, agendanya bukanlah untuk merubah kebiasaan masyarakat. Ia berpendapat, sektor wisata memiliki potensi untuk mendatangkan omset, namun demikian kegiatan ini masih rentan dengan hal-hal yang tak terduga seperti kondisi pandemi saat ini contohnya.
“Jadi nanti ada sistem bagi hasil dimana masyarakat lokal yang inves BUMDes yang kelola dengan memperkerjakan pemuda. Masyarakat dengan kebiasaannya menunggu bagi hasil nantinya bisa per 3 bulan, 6 bulan atau per 1 tahun. Hal ini diharapkan menjadi tabungan penyangga ekonomi masyarakat,” sebutnya,
Seiring dengan berkembangnya ekowisata mangrove di Desa Ardi Mulyo, Yosran optimis hal itu membuat masyarakat lebih kreatif dan inovatif dalam merespon keadaan.
“Karena masalah dari banyaknya program adalah pasarnya, pembelinya, makanya ide ini adalah menciptakan pasarnya biar masyarakat nanti berkembang dengan sendirinya,” pungkasnya. (dc/nr)