BPBD Petakan Tanah Bergerak di Bulungan

Kepala BPBD Bulungan, Ali Fatokah
Kepala BPBD Bulungan, Ali Fatokah

TANJUNG SELOR, narahubung.id – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bulungan, Ali Fatokah mengungkap sejumlah titik potensial bencana tanah bergerak. Diantaranya daerah Gunung Seriang, Tanjung Selor hingga Pesso Hilir, Tanjung Palas Barat.

“Kalau sepanjang di jalan didaerah itu, potensi tanah bergerak sangat memungkinkan. Apalagi kan sekarang itu, kendaraan yang melalui jalan sepanjang daerah itu cukup ramai. Jadi fenomena terjadi tanah bergerak sangat berpotensi,” ujarnya, pada Senin (8/2/2021).

Lalu, di persimpangan Berau-Bulungan-Tanah Kuning menuju daerah-daerah Desa Tanah Kuning hingga tembus Desa Mangkupadi, Tanjung Palas Timur. Kemudian didaerah Desa Salimbatu, Tanjung Palas menuju arah Desa Silva Rahayu, Tanjung Palas Tengah yang juga sangat berpotensi terjadi fenomena tanah bergerak.

“Daerah – daerah itu semua yang masuk jalan Kabupaten. Kalau potensi di jalan-jalan provinsi, yah sepanjang perbatasan Berau sampai ke Malinau. Fenomena tanah bergeraknya itu, sangat berpotensi semua,” jelasnya.

Fatokah mengatakan, fenomena tanah bergerak sudah beberapa kali terjadi. Fenomena itu menyebabkan terjadinya tanah longsor yang sudah terjadi di beberapa daerah di Bulungan.

Namun beruntung, sesuai dengan pemetaan yang dilakukan pihaknya, potensi bencana alam itu tidak terjadi di kawasan pemukiman warga.

“Biasanya itu akan menyebabkan tanah longsor. Kita lihat kan yang sudah terjadi di beberapa titik. Itu semua tidak mampu menampung air karena gorong-gorong kecil. Mengakibatkan ada pergeseran tanah yang mengakibatkan tanah longsor,” imbuhnya.

Fatokah menambahkan, selain gorong-gorong, keberadaan sejumlah perusahaan kelapa sawit ini juga mempengaruhi tekstur tanah. Di beberapa titik yang terjadi, tanah akan mudah bergerak jika hanya kelapa sawit yang menjadi penopang.

“Salah satu penyebabnya juga, yah kelapa sawit ini. Karena kan tidak bisa meresap air yang menyebabkan turun ke jalan misalnya. Makanya kadang ada tanah longsor yang sampai menutupi jalan bahkan ada yang (jalan) sampai putus,” jelasnya.

Untuk menghindari adanya korban jiwa, pihaknya secara intens melakukan patroli untuk memantau daerah-daerah yang berpotensi terjadi fenomena tanah bergerak. Sekaligus juga untuk menyampaikan bahaya dari karhutla serta bahaya dari Covid-19.

“Jadi sekali anggota kita jalan (patroli) ada beberapa potensi bencana alam yang disampaikan. Selain kita waspadai longsor, kita juga sampaikan soal karhutla dan juga Covid-19,” pungkasnya. (dc/nr)

Berita Lain