Lewat Seni Mural, Joel Oesmant Ingin Menumbuhkan Industri Kreatif

Joel Oesmant (Foto : AGV)
Joel Oesmant (Foto : AGV)

TANJUNG SELOR, narahubung.id – Tren bisnis dalam industri kreatif bisa jadi salah satu usaha yang saat ini paling banyak digandrungi anak-anak muda. Industri kreatif sendiri mengacu pada bisnis yang lebih mengedepankan ide sebagai faktor utama dalam produksi.

Seperti seni mural yang kini telah menjelma sebagai bisnis kreatif. Target pasarnya sendiri antara lain, pengusaha kafe dan perkantoran.

Juliansyah atau lebih dikenal sebagai Joel Oesmant, seorang Visual Artist menuturkan, media lukis mural meliputi dinding atau bidang luas.

“Mural itu seni 2D yang penerapannya dibuat di atas dinding atau bidang luas. Tidak cuma lukisan gambaran dengan arang, krayon atau kapur misalnya kalau dibuat di dinding dan mempunyai makna tertentu juga bisa disebut mural,” ujarnya, Sabtu (6/3/2021).

Seiring perkembangan dunia seni rupa, mural yang dulunya hanya menghiasi ruang publik kini telah berevolusi menjadi sebuah potensi bisnis yang menguntungkan.

“Hari ini sudah berpindah dan mengisi bagian daripada seni interior, misalnya kafe, kantor, bahkan rumah. Dari situ nilai-nilai komersialisasi mulai berlaku, seniman mural membuka jasa untuk mengisi ruang-ruang interior tersebut,” katanya.

Joel mengatakan, bergerak di industri kreatif, khususnya seni mural itu gampang-gampang susah, tergantung niat pelukisnya.

“Menurut saya mural dalam perspektif komersial perlu diimbangi antara realistis dan idealis si seniman, mungkin prinsipnya begini ‘seni telah menghidupi saya maka saya juga harus menghidupi seni itu sendiri’,” ungkap dia.

Lanjut, Joel menyebut seni mural sebenarnya bukan hal baru di Kaltara. Ornamen seni bernuansa lokal menjadi bukti seni mural sudah lama dipraktikkan oleh para nenek moyang.

“Di Kaltara sendiri sebenarnya mural sudah ada dari dulu, contohnya pada bangunan balai adat dayak, selain ukiran mereka juga menghiasinya dengan lukisan motif,” imbuhnya.

Namun begitu, untuk seni mural kontemporer menurut dia masih sangat terbatas. Itu terlihat dari masih banyaknya ruang publik yang ‘sepi’ dari sentuhan mural.

“Tapi untuk yg kontemporer saya rasa masih belum banyak ya, apalagi di Tanjung Selor. Tak terlihat satupun mural pada ruang publiknya. Masih menjadi bagian interior cafe atau sekolah,” sebutnya.

Lebih jauh Joel mengungkapkan hasratnya yang ingin mengembangkan seni mural di Kaltara. “Saya masih mencoba mencari waktu untuk mewujudkan mural-mural pada ruang publik, dan tetap pada kaedah awalnya yaitu menyampaikan sesuatu,” pungkasnya. (dc/nr)

Berita Lain