Dari Pertambangan Minyak, Menuju Pertambangan Data

Penulis : Haikal Faqih

Pada tahun 1850-an, Charles Dickens menggambarkan sebuah kondisi dunia yang memprihatinkan. Jika tidak menduduki rantai ekonomi paling atas, maka hidup menjadi sangat sulit dan membingungkan.

Sebagian besar masyarakat tidak memiliki akses atau tidak mampu memanfaatkan batu bara dan mesin uap- yang pada masa itu menjadi api utama revolusi pertama dan kedua. Seseorang terpaksa menjadi pencuri karena kondisi ekonomi yang timpang. Selain mencuri, hal lain yang bisa dilakukan yaitu nyinyir atau julid. Yah, nyinyir sudah dikenal sejak dahulu.

Masyarakat nyinyir dan mengutuk keadaan yang tidak kunjung membaik. Penambang nyinyir dengan kotoran cokelat yang lengket dan menghalangi proses penambangan batu bara. Diantara nyinyiran, James Young mengubah ulang pemahaman manusia tentang minyak. Proses penyulingan telah mengubah kotoran cokelat yang lengket menjadi sesuatu yang berguna yaitu minyak.

Masyarakat hanya menggunakan minyak sebagai penerangan, tanpa mengetahui bahwa minyak akan menjadi api utama revolusi ketiga. Kemudian, pada masa yang sama (Tahun 1896) ladang minyak telah ditemukan di Kota Tarakan. Puluhan tahun setelah ditemukan, kota ini menjadi salah satu kota terkaya di Indonesia berkat minyak. 

125 tahun telah berlalu, sejak minyak pertama kali ditemukan di Kota Tarakan. Komoditas minyak yang sangat terbatas telah mengharuskan kita untuk beralih. Revolusi keempat dan kelima bahkan telah menggantikan minyak dengan data, sebagai api utama revolusi tersebut. Pertanyaannya, apakah kita memandang data sebagai sebuah minyak atau kotoran ?. 

Data tidak ditemukan jauh dibawah tanah disuatu tempat dimuka bumi, tapi berada dibawah kaki, dikepala dan di jari. Data tidak hanya dimanfaatkan oleh elit atau hanya di kalangan tertentu tapi untuk semua manusia secara mandiri.

Setetes minyak pada tetesan lainnya hanya akan menghasilkan dua tetes minyak. Sedangkan, menggabungkan satu data dengan data lainnya akan menghasilkan sesuatu yang lebih bernilai. Netflix tidak mampu untuk mengetahui banyak informasi, jika hanya digunakan oleh beberapa pengguna. Kombinasi dari beberapa data akhirnya menghasilkan nilai yang tumbuh berkali-kali lipat.

Netflix, Instagram, Youtube, Google telah mampu memanfaatkan hal tersebut untuk membuat semuanya serba terpersonalisasikan -yang menyesuaikan dengan keinginan personal. Kita akan panik jika kehilangan akun instagram, dibanding dengan kehilangan “pertemanan”.

Saat ini, mereka telah berubah menjadi Kota Tarakan pada masa kejayaan minyak. Perusahaan-perusahaan yang meraup keuntungan berkali-kali lipat, hanya dengan memanfaatkan data. Lalu, ada yang menyinyir, karena mereka didukung oleh modal yang besar. Larry Page dan Sergey Brin mendirikan google di sebuah garasi dan meminjam uang dari teman dan keluarganya. Yah, nyinyir adalah hak segala bangsa. 

Kota Tarakan saat ini, telah menginisiasi untuk menjadi Kota Pintar (Smart Cities). Move-on dari minyak, menuju data. Pada Smart Cities, data menjadi bahan bakar dalam teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan pembelajaran mesin (machine learning) untuk rekomendasi kebijakan.

Teknologi tidak memiliki nilai jika tanpa data sebagaimana memiliki mobil sport bernilai milyaran tapi tidak ada bahan bakarnya. Smart Cities juga menyajikan informasi dan data pelayanan publik secara real-time dan akurat, mengatur data pembangunan kota yang terintegrasi, meningkatkan koordinasi, komunikasi dan pengawasan pembangunan.

Smart Cities bertujuan untuk memudahkan hidup warga melalui pemanfaatan teknologi. Smart Cities mengharuskan untuk penyajian data pelayanan publik secara real-time dan akurat. Data dari pelayanan publik dapat disebut dengan data sekunder. Data sekunder inilah yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan lembaga riset non-pemerintahan.

Karena data bukanlah minyak yang hanya bisa dinikmati oleh sebagian kalangan. Kombinasi antara pemerintah, masyarakat dan lembaga riset akan menghasilkan data yang bernilai untuk pembuatan kebijakan publik atau memudahkan hidup warga negara.

Sebagai contoh, dinas kesehatan menyajikan data berupa tingkat kunjungan warga ke puskesmas. Berdasarkan data tersebut, terdapat satu puskesmas yang tingkat kunjungannya paling tinggi. Lembaga riset dapat menjadikan data tersebut untuk identifikasi masalah atau membantu pemerintah dalam mengatasi permasalahan.

Akhirnya, sebuah aplikasi pendaftaran pasien secara online tercipta. Memudahkan pasien untuk tidak menunggu terlalu lama di puskesmas atau mencegah kerumunan di puskesmas pada saat masa pandemi seperti saat ini.   

Negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia telah unggul secara ekonomi, peradaban dan ilmu pengetahuan karena kekuatan lembaga riset dan pembuatan kebijakan publik berbasis pada data atau bukti ilmiah. Data tidak hanya dipandang sebagai benda mati yang nihil nilai atau dipandang sebagai bahan jualan. Lembaga riset tidak hanya menjadikan data untuk pengakuan global terkait publikasi internasional.

Pemerintah tidak hanya menjadikan data sebagai bentuk formalitas dalam penyusunan laporan. Lebih jauh dari itu, data dianggap sebagai api utama revolusi, sesuatu yang bernilai tinggi dan dapat digunakan untuk memudahkan hidup warga negara. 

“Sejauh mana penerapan Smart Cities di Kota Tarakan ? apakah sudah mampu untuk memudahkan hidup warganya? apakah kebijakan publik yang diambil telah berbasis data (evidence based) ?”. (*)

*Penulis adalah Dosen/Kepala Peminatan Manajemen Informasi Kesehatan Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro

Berita Lain