Best Future Leader

Dua Inovasi Membangun Kaltara


Ada dua inovasi besar tercipta selama lebih kurang dua tahun kepemimpinan Gubernur Kaltara, Drs H Zainal Arifin Paliwang dengan sang Wakil, Dr Yansen TP. Inovasi-inovasi itu bukan tanpa makna atau sekadar slogan ikonik tetapi juga sekaligus memberi warna tersendiri dalam perjalanan karier kepemimpinan dua tokoh itu.


Rohil FM/narahubung.id


KALTARA “Di Hati” merupakan sebuah inovasi abadi yang muncul dari pikiran dan hati yang jernih dari seorang gubernur. Kaltara “Di Hati” tidak sekadar akronim hampa. Sebab, menurut Zainal – demikian call sign Zainal Arifin Paliwang – Gubernur Kaltara ini, bahwa Kaltara “Di Hati” itu singkatan dari “Damai, Indah, Harmonis, Aman, Tertib, dan Inovasi”. Waaw. Luar biasa!

Nah, inovasi sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berarti penemuan atau pengenalan hal-hal yang baru. Pengertian sederhananya adalah, pembaruan atau terobosan kreatif. Contohnya, “kain batik khas Kaltara telah ditetapkan menjadi pakaian khusus para Aparatur Sipil Negara (ASN) pada hari-hari tertentu”. Inovasinya terletak pada batik itu sendiri yang semula tidak ada menjadi ada.

Tetapi, untuk menjabarkan arti Kaltara “Di Hati”, tak cukup hanya dengan tulisan sesingkat ini. Perlu waktu dan tenaga untuk mengurai semuanya. Namun, di antara untaian kata pada Kaltara “Di Hati”, ada yang cukup menarik untuk ditelisik maknanya. Yakni “Inovasi”. Sebab inovasi inilah yang akan menjadi landasan motivasi Zainal-Yansen membangun Kaltara saat ini, dan akan datang.

Kaltara “Rumah Kita”. Ini juga bagian dari sebuah inovasi bermakna. Jadi, Kaltara “Di Hati” maupun Kaltara “Rumah Kita” keduanya bagian dari motivasi dalam membangun Kaltara ke depan menjadi lebih baik. Zainal-Yansen sesungguhnya telah melakukan banyak hal. Meskipun, hal-hal yang dimaksud tidak banyak direkam masyarakat selama kurang lebih dua tahun kepemimpinannya yang terbilang sumir itu.

Tak hanya pembangunan fisik, tapi juga keamanan, spiritual dan sosial. Di bidang infrastruktur, Zainal – Yansen kabarnya telah banyak membangun prasarana jalan terutama di kantong-kantong pemukiman penduduk terisolir dan terpencil.

Namun karena luas Provinsi Kaltara yang mencapai 71.827 kilometer persegi dengan tingkat kesulitan yang berbeda, tentu ini merupakan tantangan besar bagi sang gubernur dalam mewujudkan visi-misinya melalui inovasi. Butuh waktu, butuh biaya dan juga pikiran tentunya.

Yang menarik dari kepemimpinan Zainal-Yansen, adalah pembangunan infrastruktur berkelanjutan. Misalnya, jalan dari ibukota kabupaten Malinau ke Krayan. Pembangunan jalan ini nantinya merupakan satu-satunya akses yang akan mampu menunjang dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat pedalaman di Krayan.

Selama beberapa dasawarsa, masyarakat Krayan hanya punya satu pilihan transportasi, yakni pesawat perintis. Namun dengan pesawat itu, melahirkan satu konsekwensi besar di bidang ekonomi dan daya beli masyarakat di sana.

Orang nomor satu di Kaltara itu pergi langsung mengecek infrastruktur yang telah dibangun mulai jalan darat, landasan penerbangan, hingga memastikan perekonomian warga perbatasan di Kecamatan Krayan, melalui jalan darat sepanjang 186,2 kilo meter.

Perjalanan darat itu terbilang tidaklah mudah ditempuh. Adanya nyawa yang dipertaruhkan, hingga letih yang tak tertahankan agar dapat menembus jalur perbatasan. Gubernur ingin ekonomi warga Krayan tak lagi bergantung dengan Negara tetangga, Malaysia. Bagi Zainal, di era kepemimpinannya ekonomi wilayah perbatasan harus bergeliat. Tak lagi berkutat dengan mahalnya harga barang.

Menembus belantara menuju perbatasan itu cukup menjawab keraguan terhadap kinerja gubernur dan wakil gubernur. Jalan menuju Krayan dipastikannya rampung di tahun mendatang. Jika jalan yang diharapkan masyarakat itu sudah bisa diakses, seluruh bahan keperluan warga sudah bisa disuplai melalui Kabupaten Malinau.

Sesampainya di Desa Long Bawan, wajah lelah Zainal beraut senang. Wajahnya tergambarkan kagum dengan pembangunan yang sudah dihasilkan. Warga Desa Long Bawan menyambut dengan antusias. Bak pahlawan, Zainal dan rombongan disambut tarian serta musik khas daerah.

Beberapa warga mendekat dan bersalaman. Ada yang mengajak berbincang singkat, ada yang coba menarik tangannya untuk bersalaman, ada pula yang menawarkan air sekedar melepas dahaga dari perjalanan panjang itu. Di sela – sela kedatangannya, ia sempatkan bercengkrama dengan warga Desa Long Bawan. Aspirasi terurai dari berbagai kalangan, mendukung dan berharap ekonomi warga perbatasan juga bisa satu harga dengan wilayah lain di Kaltara.

Bayangkan, untuk biaya angkut barang via pesawat bisa sampai puluhan ribu per kilogram. Semen umpamanya. Konon biaya angkutnya sekitar Rp25 ribu per kg. Artinya, sampai di Krayan harga semen itu sudah di atas Rp1 juta rupiah.

Beruntung, sebab pemerintah mengambil langkah menghentikan turbulensi warga setempat untuk menekan biaya kebutuhan pokok di Krayan yang tinggi itu. Caranya, dengan memberi Subsidi Ongkos Angkut (SOA) bagi warga setempat. Dengan demikian, beban masyarakat praktis tidak terlalu berat. Bahkan dengan subsidi itu harga jual barang kebutuhan pokok di Krayan bisa lebih murah –meskipun memang tidak semurah di wilayah-wilayah yang infrastrukturnya terjangkau bagi semua jenis transportasi.

Disparitas harga yang kelewat mencolok dibanding harga di wilayah lain itu juga sudah dipahami pasangan Zainal-Yansen. Zainal tentu paham, bahwa pemberian subsidi ongkos angkut tidak mungkin dilakukan terus-menerus karena akan membebani keuangan daerah.

Menjawab kemungkinan-kemungkinan itu, Zainal – Yansen mulai serius menjamah jalur darat Malianu – Krayan meski harus bertahap. Bahkan menurut informasi, jalur penghubung Malinau-Krayan yang panjangnya kurang lebih 200 km itu bakal rampung akhir 2024. Ini sebuah prestasi besar sang gubernur dengan wakilnya, Yansen yang akan dikenang warga Kaltara sepanjang masa.

Pembangunan infrastruktur oleh pemerintah merupakan korelasi sekaligus menjawab tantangan pengentasan kemiskanan di provinsi termuda ini. Dalam catatan BPS Kaltara per 2021 atau awal pemerintahan Zainal, penduduk miskin Kaltara masih bercokol di angkat 52.860 jiwa. Kemudian, turun pada September 2022 hingga Maret 2023, atau hanya dalam tempo kurang lebih dua tahun Zainal- Yansen mampu menurunkan angka kemiskinan menjadi hanya 2.600 jiwa atau sekitar 0,41 persen.

Inovasi Zainal tak hanya pada satu sektor, tetapi multi sektor, di samping instrastuktur tadi juga sejumlah program sedang direalisasikan. Di antaranya bantuan biaya pendidikan bagi keluarga yang kurang mampu, bantuan untuk meningkatkan produktivitas para petani, perikanan, pertanian dan nelayan. Di bidang keamanan dan Kaltara terbilang provinsi yang relatif damai. Tak heran bila Gubernur Kaltara ini meraih predikat mentereng sebagai Best Future Leader – pemimpin masa depan. (**)

Berita Lain