BKKBN Bekali Pencegahan Stunting Kepada 968 Mahasiswa UBT

narahubung.id – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Republik Indonesia (RI) bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Borneo Tarakan (UBT) dalam memberi pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa peduli stunting pada, Sabtu (4/6/2022).

Dalam hal ini, pembekalan fungsi dan tugas BKKN kepada mahasiswa-mahasiswi UBT yang akan KKN, disampaikan langsung oleh Deputi Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN RI, Muhammad Rizal Martua Damanik.

Harapannya, mahasiswa UBT yang akan menjalankan KKN nanti, dapat memberikan pemahan-pemahaman kepada masyarakat tentang tugas dan fungsi BKKBN itu sendiri.

“Kalau ada pertanyaan penduduk yang menjadi tugas dan fungsi BKKBN. Maka jawabannya, mulai dari calon penduduk atau yang sedang di kandung, sampai si calon penduduk ini lahir menjadi baduta, batita, balita, kemudian di intervensi lagi menjadi remaja, di intervensi lagi menjadi calon pengantin, orang tua hebat diintervensi lagi sampai menjadi lansia tangguh,” kata Rizal Damanik dalam sambutannya, Sabtu (4/6/2022).

Selain itu, Rizal Damanik juga memberikan pemahaman tentang bagaimana sejarah terbentuknya BKKBN RI. Serta, penjelasan soal pergantian nama, dari Badan Koordinasi menjadi Badan Kependudukan.

“Kenapa didirikan BKKBN, untuk mengendalikan laju penambahan penduduk. Karena pada tahun 1970, total Total Fertility Rate (TFR), jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang wanita usia produktif selama hidupnya, itu 5 sampai 6. Jadi, itu namanya TFR (Total Fertility Rate),” jelasnya.

Kemudian, TFR ini dapat dikendalikan turun menjadi 3,5 dari yang awalnya 5,6. Jadi, seorang wanita melahirkan 3 sampai 4 anak. Targer tersebut dicapai Indonesia pada tahun 1990, dan berkat kerja keras dari 5,6 menjadi 3,5.

“Bapak Presiden Alm. Soeharto ini menerima penghargaan Population Award dari WHO dari PBB, diterima langsung oleh Bapak Presiden Soeharto pada saat itu, itu di tahun 1989,” ungkapnya.

Pria lulusan Monash University, Melbourne, Australia ini juga menjelaskan tahun terbentuknya BKKBN dan Kepala pertama yang sukses menjalankan program BKKBN pada era Presiden Soeharto.

“BKKBN lahir tepatnya pada tahun 1970. Saya yakin adek-adek mahasiswa pasti belum ada yang lahir saat itu, dan kepalanya pada saat itu, Prof. Haryono Suyono, dikenal sebagai kepala BKKBN yang terkenal dengan program keluarga berencana pada era Presiden Soeharto, sekarang alhamdulillah beliau masih sehat wal alfiat,” ucapnya.

Oleh karena itu, BKKBN sangat konsen dalam memprogram kependudukan masyarakat Indonesia. Mulai dari calon penduduk, hingga lansia tangguh. Kemudian, dari kategori tersebut sudah ada bidang-bidangnya sendiri.

“Dari calon penduduk tadi, sudah ada bidang-bidangnya, ada BKB (Bina Keluarga Balita), membina keluarga, dimana keluarganya ada balita. Yang kedua, Bina Keluarga Remaja (BKR), keluarga yang memiliki remaja ini ada program-programnya, antara lain genre (generasi berencana). Kemudian, sesudah itu Bina Keluarga Lansia (BKL), jadi lansia lansia juga mendapat program agar para lansia ini tetap sehat dan bugar,” tutupnya. (adv/rhl)

Berita Lain