Budaya Ngopi di Tarakan: Warung Kopi Aseng versus Kedai Kopi Indie
Penulis : Muhammad Nour
“Pak, bapak sendiri?“ tanya seorang pelayan pada ku saat sedang menunggu kawan di sudut warung kopi Aseng. Aku jawab, “ya, kenapa mbak?“ ku tanya balik. “Ada rombongan gubernur mau datang, apa bapak bisa pindah meja?“.
Karena aku menghormati rombongan gubernur yang lebih penting dan tamu agung yang telah bekerja keras bagi kampungku, aku pindah meja.
Dan yang datang bukan rombongan gubernur, tapi rombongan bakal calon wakil gubernur, sial, kena prank pelayan Aseng. Tapi itu bukan salahnya, mungkin semata miskomunikasi, lagi pula itu tak penting.
Dari meja ku yang baru ini, posisinya strategis, aku bisa mendengar percakapan dari segala arah, orang bicara politik, kinerja gubernur, memuja gubernur, merancang pernikahan, harga udang merosot, listrik byarpet, air PAM keruh, hingga bully terhadap para anggota dewan tak bisa berkutik gara-gara corona.
Magnet utama warung Aseng ini tentu saja pembicaraan politik, apalagi momentum pemilihan gubernur Kalimantan Utara segera dihelat. Segala rupa strategi kampanye, tagline dan simulasi pasangan bacabug bacawagub dibahas dan dirancang di warung Aseng. Bukan main.
Yang menarik politik lokal di Kaltara ini sangat khas, bila bicara pasangan pemimpin kabupaten/kota, nuansa ideologi SARA nya sangat kental, walau orang politik tidak mengakuinya. Sebut saja, di kabupaten Nunukan, calon bupatinya dipilih dari perwakilan Bugis dan wakilnya, Tidung, dan mesti dari klan Hafidz, sang tokoh besar di Nunukan. Di Kabupaten Tana Tidung (KTT), beda lagi, calon bupati dari etnik Tidung, berpasangan dengan orang suku Dayak Belusu. Walau saya lihat sudah ada pasangan yang agak beda sendiri, calon bupati Belusu, wakilnya Tidung. Di kabupaten tetangga KTT, Malinau, pasangan bupati dan wakil bupati, merupakan representasi Dayak dan Tidung. Di Kabupaten Bulungan, selama ini, selalu di pegang oleh Bupati dari etnik Tidung, dengan wakil Dayak, kini agak bergeser Jawa dan Dayak. Nah, dikampung ku sendiri, Tarakan, agak maju sedikit, walikota dan wakil walikota nya gantian dari etnik Tidung, Gorontalo, Bugis, dan Jawa.
Seharusnya sih, parpol tidak lagi menyandingkan calon pemimpin hanya berdasarkan kelompok proporsional etnik dan kemampuan finansial, tapi harus murni mereka yang kompeten dan memahami kondisi lapangan.
Ah, malah curhat, mari kembali ke budaya ngopi. Warung kopi Indra, lebih dikenal Aseng, sudah tak ada lawan. Titik, mereka adalah legenda di Tarakan. Namun, di era budaya ngopi di Tarakan lagi jaya-jayanya, tak terhitung tempat nongkrong yang menyediakan kopi dan mulai dari makan berat hingga ringan bahkan dengan disertai hiburan live music di hampir seluruh sudut kota Tarakan, kecuali wilayah Tarakan Utara dan Swaran Jaya. Orang Juata bahkan kalo mau ke kota, mereka bilang mau ke Tarakan. Padahal masih satu pulau.
Penikmat kedai kopi Indie lebih bervariasi latar belakang gender, usia, jomblo, dan kelas pekerjanya. Minumnya juga tak hanya kopi, tapi juga jus, es teh, dan kentang goreng merupakan menu wajib. Hasrat keluar rumah untuk sekedar bertemu kawan-kawan ini semakin menggebu kala pemerintah Tarakan melonggarkan aktifitas kumpul-kumpul warga. Dan balas dendam nongkrong setelah berbulan-bulan dirumah kini pindah ke kedai kopi, terutama malam.
Kedai kopi sedikit banyak telah menyelamatkan ekonomi lokal di Tarakan dengan seluruh rantai pasoknya, termasuk menggairahkan dunia kerja yang diperkirakan menyerap lebih 5,000 ribu pekerja di seluruh rantai pasok di Tarakan saja. Istilah Latte Factor yang diperkenalkan oleh David Bach, yang mengungkap kebiasaan orang-orang saat ini sering nongkrong ngopi, merupakan perilaku boros, namun disisi lain ia juga membantu stimulasi ekonomi lokal.
Omong-omong, tau kah pembaca yang budiman, sejarah peradaban kopi dimulai dari Ethopia, diperkenalkan oleh saudagar dari Yaman, ditanam di Yaman dan berhasil, berkembang pesat, hingga diekspor ke berbagai negara dengan pelabuhan laut utamanya bernama Mokha, dari sinilah istilah kopi Mocha diperkenalkan. Kopi ini kemudian diperkenalkan ke Turki sebagai Kahvi, sekaligus pintu masuk kopi ke Eropa, yang kemudian dikenal sebagai coffee. Jadi para pembaca sekalian, lebih suka ngopi dimana? Aseng atau kedai kopi indie? (*)