Diskon Listrik 50% Beri Dampak Signifikan Deflasi di Kaltara
TARAKAN – Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) dari Indek Harga Konsumen (IHK) di tiga kabupaten/kota selama Februari 2025, menunjukan deflasi sebesar -0,17 persen month to month (mtm). Namun, angka ini tak sedalam deflasi di bulan sebelumnya sebesar -1,35 persen mtm.
Sementara, secara tahunan inflasi gabungan 3 kabupaten/kota IHK Kaltara tercatat sebesar -0,49 persen yoy. Lebih rendah dari capaian nasional yang mengalami deflasi sebesar -0,09 persen yoy.
Penurunan pada komoditas tarif listrik disebabkan oleh penurunan harga tarif listrik sejalan dengan Keputusan Menteri ESDM Nomor 348.k./TL.01 tentang pemberian Diskon Biaya Listrik Untuk Konsumen Rumah Tangga PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Pemberian diskon 50 persen diberikan kepada pelanggan rumah tangga dengan daya dibawah 2.200 VA, yang belaku selama dua bulan yaitu Januari dan Februari 2025.
Deflasi ini mayoritas didorong kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga, terutama pada komoditas tarif listrik (andil -0,39%).
“Penurunan pada komoditas tarif listrik disebabkan oleh penurunan harga tarif listrik sejalan dengan Keputusan Menteri ESDM Nomor 348.k/TL.01 tentang Pemberian Diskon Biaya Listrik Untuk Konsumen Rumah Tangga PT Perusahaan Listrik Negara (Persero),” Keterangan KPwBI Kaltara, Jumat (14/03/2025).
“Pemberian diskon 50% diberikan kepada pelanggan rumah tangga dengan daya di bawah 2.200 VA yang berlaku selama dua bulan. Yaitu Januari dan Februari 2025,” sambung KPwBI Kaltara.
Selain itu, kelompok makanan, minuman dan tembakau juga turut memberi andil deflasi. Terutama pada tomat (andil -0,13), cabai rawit (andil -0,07), bawang merah (andil -0,05) dan telur ayam ras (andil -0,02%).
Andil komoditas tomat dan cabai rawit disebabkan terjaganya pasokan sejalan dengan mulai masuknya musim panen di daerah sentra produksi dan masuknya pasokan dari Sulawesi.
Sementara itu, inflasi Kaltara tetap terjaga meski terdapat risiko tekanan inflasi global. Seperti kebijakan proteksionisme AS yang berdampak pada terganggunya pasokan komoditas global, serta risiko inflasi dari dalam negeri seperti terganggunya pasokan komoditas dengan bobot inflasi tinggi seperti aneka cabai dan bawang merah, serta kenaikan tarif angkutan udara.
Namun demikian, TPID Kaltara terus bersinergi dalam upaya menjaga stabilitas harga melalui framework 4K.