Gunung Rego Punya Keunikan di Jalur Pendakiannya (1)

Penulis : Muhammad Nor Gusti

MELIHAT ketinggiannya, mungkin tidak terlalu tinggi. Begitu kata salah seorang teman ketika melihat keunikan gunung-gunung yang ada di Kalimantan, khususnya Kalimantan Utara (Kaltara).

Dari informasi yang saya dapatkan ketika itu, ada dua gunung yang menjadi rute favorit bagi pendaki di provinsi termuda ini, yakni Gunung Rego di Kabupaten Bulungan, dan Gunung Rian di Kabupaten Tana Tidung.

Informasi mengenai rute menuju Gunung Rego tidaklah seeksis Gunung Rian. Ini terbukti ketika kami berdua sempat mengalami kesulitan menemui rute pendakian ditambah kami juga baru pertama kalinya mendaki gunung setelah bertahun-tahun ‘istirahat’.

Tanpa peta, dan GPS, kami berjalan dari Tanjung Selor menuju Tanjung Palas Utara. Di mana Gunung Rego sendiri terletak di antara Desa Pimping dan Desa Karang Agung. Kami memilih rute melewati Desa Karang Agung, berdasarkan informasi yang terhimpun melalui teman yang sudah pernah mendaki kesana.

Tentu saja, persiapan yang kami lakukan hanya sebatas membawa peralatan yang benar-benar prioritas, seperti tenda, nesting dan kompor, dan sedikit alat pribadi seperti sendok dan air minum.

Benar-benar persiapan sesuai prioritas bukan pula seadanya. Bagi kami yang terpenting adalah pada saat summit nanti tidak kedinginan, kehausan dan kelaparan (3K).

Dengan menggunakan sepeda motor kami menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam dari Tanjung Selor. Kami mampir sejenak untuk ngopi membeli keperluan logistik untuk pendakian di Desa Karang Agung kurang lebih 30 menit sebelum melanjutkan perjalanan.

Minimnya informasi menuju rute pendakian Gn Rego begitu menyulitkan kami yang baru pertama kali mendaki Gunung di Kalimantan. Berbeda dengan jalan menuju rute pendakian gunung lainnya, selalu ada informasi ke mana kita harus berjalan meskipun di tengah jalan kita harus rajin-rajin bertanya kepada warga sekitar.

Akhirnya, berbekal informasi dari teman yang sudah pernah mendaki kami mendapatkannya, dan tentu saja, langsung tancap gas !!!. Lagi-lagi perjalanan menuju jalur pendakian tidak semulus informasi yang diterima. Kami tersesat di kawasan perkebunan kelapa sawit milik salah satu perusahaan yang beroperasi di Bulungan.

Cukup lama, hampir satu jam lebih kami tersesat di dalam kebun sawit, karena cukup banyak persimpangan dan juga petunjuk jalan yang sama, sehingga kami pun mengikuti itu.

Setelah cukup lama tersesat di kebun sawit kami memutuskan untuk kembali ke posko keamanan perkebunan. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan orang sekitar.

Mungkin dia adalah salah satu karyawan perusahaan perkebunan sawit, setelah bertanya-tanya rute pendakian Gn Rego, si bapak yang baik hati ini dengan senang hati mengantarkan kami ke jalan yang mesti kami lewati agar sampai ke jalur pendakian, mengingat waktu sudah semakin sore.

Dalam hitungan menit, kami tiba di jalur pendakian. Semua di luar ekspektasi kami. Semula kami berpikir bahwa di jalur pendakian akan ada basecamp dan penataan parkir kendaraan, mengingat setiap akhir pekan, selalu ada pendaki yang ke Gunung Rego, baik itu hanya dua orang mapun rombongan.

Nyatanya, tidak ada parkiran, tidak ada basecamp pendakian. Yang ada hanya ilalang dan tanaman pakis liar. Alhasil, sepeda motorpun kami parkirkan di tempat yang aman. Beruntungnya, di kawasan itu masih ada sinyal provider telekomunikasi sehingga memudahkan komunikasi kami dengan sejumlah teman-teman yang pernah mendaki Gunung tersebut.

Tanpa banyak istirahat, kami langsung melanjutkan perjalanan melewati hutan belantara untuk mencapai puncak gunung. Mengingat waktu kami terbuang sia-sia karena tersesat di kebun sawit.

Seperti kata orang tua terdahulu, tiap gunung memiliki medan yang berbeda. Meski tidak setinggi gunung-gunung di Pulau Jawa dan Sumatera, keunikan Gunung Rego terletak pada jalur pendakiannya. Jalur pendakiannya cukup terjal berada kemiringan 80-85 derajat, yang kadang memaksa pendaki harus merangkak melewatinya.

Tidak ada jalur melingkar mengitari gunung untuk sampai ke puncak, yang ada jalur terjal nan menantang, apalagi kami berdua sudah cukup lama ‘beristirahat’dari dunia pendakian. Terbilang cukup melelahkan, dan kami beberapa kali terhenti lantaran harus mengambil nafas panjang serta menikmati udara segar hutan yang masih cukup alami.

Satu jam lebih melewati jalan terjal, akhirnya kami berdua tiba di puncak Gunung Rego, Gunung yang memiliki ketinggian 481 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Gunung yang punya jalur pendakian yang berbeda dari gunung-gunung lainnya. (bersambung)

Berita Lain