Hari Buruh, Langgengnya Perampasan Hak dan Eksploitasi Pekerja
TARAKAN – Peringatan Hari Buruh Internasional menjadi momentum penting memberitahu kondisi para pekerja hari ini. Banyak pekerja yang masih tereksploitasi dan dirampas haknya, mulai dari pekerja pendidikan dan kesehatan. Guru, dosen, tendik, dokter, apoteker, bidan, nakes, jurnalis dan lainnya.
Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), Ardianto Satriawan dalam utasnya menganalisis relevansi atas langgengnya eksploitasi dan perampasan hak-hak pekerja hingga saat ini. Ia mengajak agar kita terus melanjutkan perjuangan mereka yang sudah membentuk kerangka kerja: “Educate, Agitate, Organize” atau “Didik, Hasut, Bentuk”.
“Didik: Beritahu ke semua orang kondisi kerja kita. Guru honorer cuma digaji ratusan ribu, dibayar 3 bulan sekali. Dosen dengan jabatan dekan bisa dapat THP di bawah 2 juta rupiah. Dokter dan nakes digaji menyedihkan. Alat produksi harus disediakan oleh pribadi,” tulisnya di akun X, Rabu (1/5/2024).
“Mengeluhlah semua! Bikin viral, kalau bisa sampai ke media konvensional. Buat semua orang sadar. Kalaupun bukan generasi kita yang sadar, generasi selanjutnya lah yang sadar,” lanjutnya.
Ia juga mendorong agar kita semua membuat propaganda. Sebab, ini semua merupakan permasalahan sistemik yang harus diselesaikan, bukan masalah individu.
“Solusi individu hanya akan melanggengkan eksploitasi dan menimbulkan normalisasi,” tegasnya.
Selain itu, dia meminta agar para pekerja membentuk organisasi atau berserikat. Karena, kalau hanya satu orang dinilai mudah patah. Namun, seribu orang menakutkan.
“Tuntut hak bersama-sama. Satu orang mudah patah, tapi seribu orang menakutkan. Ingat bahwa 80 persen nilai perusahaan/kampus datang dari pekerjanya yang paling bawah, bukan pejabatnya,” bebernya.
Dosen Teknik Elektro dan Informatika ini juga menyebut, bahwa para pekerjalah yang membuat value tersebut.
“Pabrik sepatu ada nilai karena bikin sepatu yang dibuat pekerja kasarnya. Kampus ada nilai karena ada dosen yang mengajar dan meneliti, bukan karena rektornya. Ingat, para pekerjalah yang membuat nilai. Berserikatlah!,” imbuhnya.
Sementara itu, ratusan anak muda Tarakan menggelar aksi mimbar bebas di depan Gedung DPRD Tarakan, Rabu, 01 Mei 2024 sore.
Sejumlah peserta pun silih-berganti melakukan orasi, pembacaan puisi, hingga menyanyikan lagu-lagu perjuangan.
Tampak sejumlah massa turut membentangkan poster berisi kritik dan pesan perjuangan terhadap hak-hak buruh.
Lapak buku-buku juga turut menghiasi jalannya kegiatan.
“Aksi ini dilakukan Literasi Jalanan Tarakan dan diramaikan seluruh komunitas yang ada di Tarakan,” ujar Korlap Aksi, Jody saat diwawancara wartawan.
Menurut mereka, perayaan Hari Buruh atau May Day, menjadi momentum refleksi bahwa isu krusial menyangkut kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, serta perlindungan hukum bagi para buruh harus senantiasa disuarakan.
Mengingat peran kaum buruh sangat berjasa pada sektor perekonomian, karena itu buruh harus diperlakukan secara layak dan bermartabat.
“Kegiatan kali ini kami meyakini bahwa saya mau pun rekan semua merupakan buruh, yang dimana tanpa adanya buruh kita tidak akan hidup. Saya meyakini juga orangtua saya juga buruh,” tutur Jody.
Hanya mengusung konsep mimbar bebas, aksi ini dibalut dengan penampilan kesenian dan orasi sehingga tidak ada tuntutan seperti lazim dalam aksi demonstrasi.
Soal tak ada aksi demonstrasi apa pun yang dilakukan serikat buruh, dia tak ingin berspekulasi. Bagi dia, hal itu merupakan hak buruh itu sendiri.
Namun, ia menegaskan kepada semua buruh bahwa masih banyak kalangan di Indonesia akan senantiasa membela hak-hak buruh.
