Jugit Demaring, Tarian Sakral Kesultanan Bulungan

narahubung.id – Tari Jugit Demaring merupakan tarian sakral atau suci yang dimiliki oleh Keraton Kesultanan Bulungan dan sarat akan makna.

Tari Jugit Demaring sebuah tarian selamat datang yang hanya dipertunjukan pada upacara adat tertentu saja.

Gerak tarian tersebut mengandung makna falsafah yang tinggi sehingga masih berjalan sesuai dengan pakem hingga saat ini.

“Jadi setelah peristiwa kebakaran yang terjadi di Kesultanan Bulungan pada Tahun 1964, Tarian ‘Jugit Demaring’ hampir jarang di bawakan kembali. Setelah Tanggal 29 Agustus Tahun 1977, saya bersama dengan kakak saya Datu Abdul Azis memperkenalkan ke Jakarta,” ujar Pembina Sanggar Tari Setara (Seni Tari Remaja), Sensuswati Datu Perdana anak dari Datu Muhammad Shaleh bergelar Datu Perdana, Jumat (15/10/2021) kemarin.

Baginya, Tari Jugit Demaring sakral dan tidak boleh untuk dikreasikan. Sebab, makna tarian tersebut begitu dalam bagi Kesultanan Bulungan.

“Untuk semua generasi muda, jangan sampai merubah, mengkreasikan, apalagi meminta saya melatih dan merubah, itu juga akan merubah makna dari tarian tersebut, karena ini merupakan tarian sakral,” terangnya.

Ia juga menyampaikan, dalam fungsinya untuk menyambut tamu kehormatan, ada hal yang unik sehubungan dengan penyajian Tari Jugit Demaring.

“Untuk penyambutan tamu di dermaga istana maupun dalam Biduk Bebandung (kapal layar kesultanan), ketika mendarat, penarinya langsung digendong oleh seseorang dalam keadaan terus menari,” ungkapnya.

Busana Tari Jugit Demaring

Busana yang digunakan penari saat menari Jugit Demaring yakni, kemben warna kuning. Untuk rok, selendang dan kipas berwarna hijau, pada lengan ada Tangkong dan Tangkop Udeng.

Pada tangan menggunakan Geleng Randu, Hiasan kepala menggunakan Jamong dibagian depan dan Tandu Gelung berambut panjang pada bagian belakang.

Pada dada dan wajah diberi titik berwarna putih seumpama itu adalah tetesan air dari percikan ombak. (rhl/nr)

Berita Lain