Kalender 60, Antara Dilan 1990 dan Sejarah Musik Dunia
Pergerakan musik indie sudah cukup lama bergema dan sukses menelurkan musisi-musisi dengan karya hebat. Seperti halnyaKalender 60, band indie beraliran pop asal Tanjung Selor.
Belum lama ini narahubung.id berkesempatan ngobrol langsung dengan Kalender 60, membahas biografi hingga proses kreatif mereka dalam membuat lagu. Mari simak hasil wawancara kami!
Sebelumnya kita kenalan dulu…
Bayu: Saya Berayu Putra, saya vocal dan gitar.
Dudung: Saya Pramudya, biasa dipanggil Dudung, saya mengisi bass di Kalender 60.
Anca: Saya Aspiansyah Idris sebagai drummer.
Anuy: Saya Anuy mengisi Keyboard di Kalender 60
Bayu: Satu personel kita, Cristov mengisi posisi gitar tidak sempat hadir karena posisi sekarang lagi di Tarakan.
Boleh ceritakan sedikit biografi kalian?
Bayu: Berawal dari solo project saya tahun 2016. Dan akhirnya saya pindah ke Tanjung Selor ketemu sama Anca. Anca sempat nanya, gimana ada project nda yang bisa ajak-ajak kita. Nah dari situ akhirnya kita bentuk, kita cari pemain.
Anca: Awal kita ketemu itu di Anom (salah satu kedai kopi di Tanjung Selor), Dia (Berayu) malam itu jadi salah satu talent yang tampil di acara “Ruang Musik” bersama ASEA band. Dari situ kita ngobrol soal project ini. Karena sebelumnya saya sama Berayu juga pernah bareng di Samarinda, jadi gampang koneknya.
Awalnya cuma bertiga kita jalankan project ini. Kalau cuma sebatas record aja masih bisa di-handle lah, sementara untuk kebutuhan live kita harus cari personel, nah kita kabari Anuy dan yang lain. Yang paling terakhir bergabung itu Dudung. Makanya yang awalnya saya main Bass, akhirnya mundur ke belakang mengisi posisi drumer.
Apa filosofi dibalik nama Kalender 60?
Bayu: Awalnya saya buat itu Kalender 90 karena kita anak nineties kan. Akhirnya Setelah Kalender 90 muncullah film Dilan 1990. Karena takut nanti akhirnya dihubung-hubungkan dengan Dilan maka kita gantilah jadi 60.
Akhirnya kita memilih 60 juga menurut saya karena ini tahun-tahun primanya musik dunia. Band-band besar seperti Rolling Stones, The Beatles, dan Pink Floyd munculnya di-60 dan banyaklah yang akhirnya merubah musik dunia.
Aliran musik yang kalian mainkan apa sih?
Bayu: Aku bingung juga ya. Memang kita nda melabel genre kita juga sebenarnya.
Anuy: Kita cukup luas memang dalam mengeksplor musik yang kita buat.
Anca: Tapi kalau memang kita harus melabel genre kita ya menurut aku pop.
Yang mempengaruhi Kalender 60 dalam membuat musik. Baik band luar maupun dalam negeri?
Anuy: Masing-masing kita beda influence ya, kalau aku lebih ke Sigur Ros.
Bayu: Aku Sheila on 7, kalau band luar itu Bon Iver.
Anca: Yang pasti Sigur Ros dan Elephant Kind.
Bagaimana kalian membuat lagu?
Bayu: Kalau aku lebih ke nada-nada untuk vocal. Untuk cord biasa ketemunya pas kita lagi ngumpul.
Dudung: Untuk ide awalnya sih biasanya Bayu terus kita kembangkan sama-sama.
Sejauh ini kalian sudah membuat berapa lagu? Apa saja?
Bayu: Kalau lagu sekarang ada lima. Pasifik, Bicara, Meluar Anggun, Kota Melankolia, dan Sebanding.
Soal lirik nih, lebih banyak berhubungan dengan hal apa?
Bayu: Kalau lirik menurut aku lebih seperti template lah. Makanya ada beberapa lagu yang liriknya agak ambigu, jadi terbuka intrepetasi untuk pendengar, jadi dia bisa dengar lagu itu dengan tafsirannya sendiri.
Ada juga lagu yang secara spesifik membahas isu sosial, walau saya juga tidak memberi solusi hanya menyampaikan pandangan saja.
Bikin lagu susah-susah, ada yang dengar ga?
Anca: Kalau aku, walau nda ada yang dengar minimal kita sudah menuangkan ekspresi kita di lagu itu.
Dudung: Tingkat keberhasilan buat lagu itu bukan dinilai dari seberapa banyak lagu itu didengar orang sih. Tapi seberapa senang kita membuat lagu itu jauh lebih penting.
Anuy: Kalau aku pribadi kita buat lagu untuk nyenangin diri kita dulu. Karena bagaimana kita mau nyenangin orang lain kalau diri kita sendiri belum senang.
Pendapat kalian soal indie lokal?
Anca: Jauh lebih baik, sudah banyak yang berani buat karya sendiri. Cuma mungkin pergerakan mereka belum kelihatan.
Bayu: Yang lucu, masih ada yang menganggap indie itu soal genre, kopi dan senja Hahaha.
Kapan lagi Kalender 60 buat lagu?
Bayu: Ada sih sudah lagunya tinggal rilis aja, kita tinggal menunggu momen.
Bagaimana mengakses lagu-lagu kalian?
Bayu: Sejauh ini sudah ada soundcloude dan Youtube.
Harapan kalian untuk Kalender 60?
Bayu: Harapannya lebih banyak teman-teman yang berkarya, karena kalau kita jalan sendiri juga susah. Semoga lebih ramailah scene indie kita.
Anuy: Harapannya cepat selesai EP-nya biar cepat launching.
Dudung: Harapan jangka panjangnya karya kita bisa lebih diterima.
Anca: Sampai kapanpun kita tetap Kalender 60.
Penulis : Dicky
Grafis : Nanda