Karhutla Dominasi Bencana Di 2021
narahubung.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bulungan mencatat sedikitnya ada 36 bencana terjadi selama 2021 yang didominasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Plt Kalak BPBD Bulungan, Darmawan mengatakan, selama 2021 kejadian karhutla di Bulungan masih cukup tinggi. Bahkan, lebih tinggi jika dibandingkan tahun sebelumnya.
“Iya, lebih tinggi. Tetapi, luasan lahan yang terbakar tidak sebanding dengan tahun sebelumnya,” jelas Darmawan kepada narahubung.id, Selasa (4/1/2022).
Berdasarkan pemetaan, ada beberapa wilayah yang menjadi titik rawan karhutla. Salah satunya, di Kecamatan Tanjung Palas Timur, Tanjung Selor, Tanjung Palas Barat dan Peso.
“Masyarakat kita disini kan kalau membuka lahan perkebunan dengan cara membakar. Nah, ini yang biasanya menyebabkan api meluas,” ungkapnya.
Kemudian ia juga menyebut, ada juga beberapa masyarakat yang membakar meninggalkan api saat membesar. Bahkan, hal ini kerap ditemukan di lapangan.
“Jadi, begitu api membesar langsung ditinggal karena tidak bisa memadamkan api,” bebernya.
Mengantisipasi hal ini, BPBD berencana membentuk tim dan gelar peralatan khusus karhutla.
“Kita juga akan melakukan pendatanganan MoU (Memorandum of Understanding) dengan seluruh pelaku usaha terkait penanganan karhutla,” ujarnya.
Dengan adanya MoU ini diharapkan semua pihak terlibat dalam penanganan karhutla. Walaupun saat ini sudah dibentuk masyarakat peduli api (MPA).
“Kami sudah melakukan koordinasi dengan seluruh pimpinan perusahaan. Mereka mengapresiasi langkah yang kita lakukan,” bebernya.
Selain karhutla BPBD juga mengungkapkan bencana banjir juga masih masih mendominasi. Di Bulungan, ada dua wilayah kecamatan yang menjadi titik rawan banjir. Salah satunya, Kecamatan Sekatak dan Tanjung Palas Utara.
“Untuk mengantisipasi banjir. Kita bekerja sama dengan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika). Jadi, setiap rilis yang dikeluarkan BMKG kami teruskan kepada seluruh camat dan kepala desa agar mengantisipasi melakukan persiapan jika ada hal yang berkaitan dengan kebencanaan,” ujarnya.
Kemudian, pemantauan debit air di hulu Sungai Kayan juga rutin dilakukan. Namun, sejauh ini masih terpantau normal.
“Sekarang ini debit air masih normal. Di bawah 8 meter. Kalau sudah lebih dari 8 meter baru kita lakukan langkah antisipasi,” pungkasnya. (rhl/nr)