Kilas Balik Jam-X
Dikalangan musisi, khususnya mereka yang kerap naik turun panggung kompetisi di era 2000-an, nama Jam-X tentu sudah tidak asing lagi. Romantisme masa kejayaan era festivalan menarik kami untuk merekam jejak para musisi yang terlibat didalamnya. Pada edisi #nostalgiapanggung kali ini, tim narahubung.id mewawancarai pentolan Jam-X, Tri.
Kapan awal Jam-X terbentuk? Bisa diceritakan secara singkat?
Kalau tidak salah, pertengahan tahun 2003. Awal mula dibentuk, dari ketertarikan kemampuan individu satu sama lainnya, dan pastinya memiliki genre musik yang sama, yaitu rock progresif.
Asal mula nama Jam-X sendiri?
Sebenarnya awal mula nama band ini adalah Jam Band. Lalu di tahun 2005 muncul reality show di salah TV swasta yang mana salah satu grup acara tersebut selalu berbicara dengan akhiran “X” dan memperkenalkan nama personelnya dengan akhiran “X”.
Karena filosofi “X” itu luas tanpa batas, maka lahirlah nama Jam-X, dan semua nama panggung personel dibubuhi akhiran “X”, misal Tri’x, Denny’x, Joan’x.
Sejak awal terbentuk, Jam-X sudah berapa kali ganti formasi? Siapa saja orangnya?
Wah.. kalau ini ga kehitung. Bisa dibilang motor penggerak hanya tiga orang, yaitu Denny (Drumer), Tri (Gitaris) dan Joan (Bassist).
Untuk Keyboardis, diantaranya Yudhis, Dwi, dan Upie. Ivander Wong kalau tidak salah juga sempat mampir di kami. Untuk vocalis sendiri, diantaranya Adam, Didit, Al Qindi, Buyung dan Fadlie.
Kapan pertama kali ikut festival musik?
Bulan Agustus tahun 2003, Festival Merah Putih, diselenggarakan di Balai Pertemuan Umum, Tanjung Selor.
Influence utama Jam-X?
Duh…malu jawabnya. Kami masih pemula, jadi influence kami cuma “Dream Theater”.
Pernah juara berapa? Di festival apa?
Duh… kalau jawab ini juga serba salah, hehe
Pertama kali ikut event, alhamdulillah dipercaya menjadi juara 1, dan kala itu nama Jam-X cukup berpengaruh dikalangan musisi setempat.
Lagu favorit saat mengikuti festival?
Overture 1928 dan Strange de’ Javu
Penampilan paling berkesan?
Semua penampilan pasti berkesan dan meninggalkan cerita. Namun yang paling berkesan adalah pada saat grand final tur 5 kota, dimana salah satu personel kami harus menggunakan kursi sembari duduk pada saat tampil, dikarenakan yang bersangkutan mengalami musibah kecelakaan sepeda motor.
Bagaimana soal adanya perubahan gaya bermusik saat ini?
Untuk gaya bermusik sekarang sangat maju dan berkembang pesat, hanya saja ada beberapa faktor yang diabaikan demi mengejar pangsa pasar, salah satunya adalah segi musikalitas.
Sebagai band festivalan, kangen ga sih panggung kompetitif?
Pastilah bosku, jiwa anak band itu sampai kapanpun ga akan pernah luntur. Ga kalah sama anak vespa hahaha…
Jam-X punya album atau single?
Untuk Jam-X alhamdulillah belum melirik ke arah sana, karena memang Jam-X khusus untuk event ajang musikalitas. Jika untuk yang lain, masing-masing personel punya pilot project ke arah situ. Hanya saja tidak terikat di Jam-X.
Untuk saat ini, Jam-X vakum atau masih aktif?
Untuk sementara kami masih vakum dikarenakan kesibukan harian tiap-tiap personel. Namun tidak menutup kemungkinan Jam-X bakal reborn seperti Padi. Ditunggu saja tanggal mainnya.
Siapa band atau player di Kaltara yang jadi favorit kalian? Kenapa?
Kalau band atau player favorit sepertinya relatif ya, karena bisa dibilang tidak ada yang terlalu menonjol ataupun menjual jika hanya di ruang lingkup Kaltara.
Pesan buat teman-teman musisi?
Terus belajar dan berkarya karena musik adalah produk dari perasaan dan pengetahuan, yang mana murid, komposer dan pemainnya tidak hanya membutuhkan bakat dan antusiasme, namun juga pengetahuan dan persepsi yang merupakan hasil kajian dan perenungan berkepanjangan.
Penulis : Dicky
Grafis : Nanda