Malaysia Lockdown, Pembagunan PLBN di Krayan Terhambat
narahubung.id – narahubung.id – Lockdown-nya Malaysia di masa pandemi COVID-19 berimbas pada wilayah perbatasan RI. Akibatnya, Pembangunan Pos LIntas Batas Negara (PLBN) Long Midang di Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan terhambat karena sulitnya pasokan material.
Hal itu diungkapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Nunukan Serfianus belum lama ini. Selama ini kata Serfianus, material selalu didatangkan dari Malaysia.
“Pada saat lelang harga barang, kita berdasarkan harga barang yang ada di Malaysia. Tapi karena di sana lockdown, materialnya sulit kita dapatkan. Kalau kita mau pakai material di sini, itu pasti sangat mahal,” ujarnya.
Serfianus menuturkan, mahalnya harga material dalam negeri disebabkan minimnya akses menuju Krayan. Bahkan, harga satu sak semen bisa mencapai Rp 1 juta. Harga yang tak wajar ini menjadi sangat masuk akal mengingat Krayan yang hanya bisa diakses dengan pesawat terbang tipe perintis.
“Kita hitung-hitung, satu kilo itu biaya angkutnya Rp 20 ribu. Sedangkan kalau satu sak, itu sudah berapa kilo. Pasti kita distribusikan semen dalam jumlah banyak. Itu baru biaya angkutnya, belum lagi harga barang,” jelasnya.
Meski demikian, dua pembangunan PLBN yang ada dibangun pemerintah pusat di Kabupaten Nunukan terus berbenah. PLBN Sebatik misalnya, Sekda mengungkapkan sudah mencapai 68 persen untuk progres pembangunannya. Termasuk juga PLBN Labang, yang terus dilakukan pembangunan hingga target yang telah ditentukan.
“Kalau PLBN Sebatik, kita target tahun 2023 nanti sudah selesai. Kalau di (PLBN) Labang, masih terus berlanjut,” ungkapnya.
Sebenarnya, pembangunan PLBN Labang juga sempat menuai kendala. Kendalanya sedikit komplit, karena bukan hanya persoalan distribusi material. Namun mulai dari mobilitas tenaga kerja hingga alat berat. Termasuk juga kendala alam, yakni banir yang tidak di prediksi bakal terjadi.
“Kita angkut material hanya menggunakan long boat. Karena kebetulan, bisa gunakan jalur sungai,” ungkap Manager PT Adhi Karya Persero, Syafruddin belum lama ini.
Untuk persoalan banjir, lanjut dia, kerap membuat stok batu yang dijadikan pondasi ikut tenggelam. Sementara ketika air sungai sedang surut, itu malah membahayakan kapal penyuplai batu ketika melintasi giram yang berada di daerah Tugu Garuda.
Sementara untuk tenaga ahli pembuatan bronjong, kerap meminta cuti untuk kembali ke kampung halaman. Termasuk ketersediaan alat berat, yang diakuinya sangat minim.
“Kalau untuk batu, kita harapkan dari warga lokal. Tapi ketika ada acara adat kematian, mereka tidak bekerja selama tujuh hari. Termasuk juga acara adat lainnya, libur dua hari. Hari minggu, malah libur. Kalau alat berat, kita upayakan tambah satu unit lagi,” pungkasnya. sb/nr)