Rahmadina, Penulis Buku Setumpuk Rasa Cuek & Kotak Suara Nisa
Narahubung.id mewawancarai Rahmadina untuk mengetahui apa sih motivasinya menjadi penulis dan bagaimana tantangan yang ia hadapi.
Perempuan yang akrab disapa Dina ini juga membagikan tips bagi kalian yang mungkin tertarik mengikuti jejaknya menjadi seorang penulis.
Hai Dina, kesibukan kamu sekarang selain menulis?
Hai juga. Saat ini aku lagi mengajar di salah satu perguruan tinggi di Kaltara. Sambil ngajar, seperti biasa aku aktif dikegiatan komunitas.
Sejak kapan tertarik untuk jadi penulis?
Kalau menulis sudah cukup lama. Tapi kemudian memberanikan diri untuk menerbitkan buku itu di awal tahun 2019.
Menulis bagi kamu?
Menulis itu bagi aku bisa jadi sebuah terapi. Kenapa? Dengan menulis aku bisa menuangkan segala bentuk emosional yang kadang aku alami secara pribadi. Nulis-nulis akhirnya bisa jadi buku. Seperti buku-buku sebelumnya itu bentuk luapan emosi yang aku tuangkan dalam bentuk tulisan. Yang mana tidak bisa aku sampaikan secara langsung tapi pingin orang lain tahu dan bisa jadi informasi baru untuk pembaca. Tapi bukan berarti isinya curcol ya. Dengan menulis aku sendiri merasa sedikit lebih tenang dan plong aja.
Faktanya, masyarakat kita kurang minat membaca. Kenapa tetap mengambil risiko menjadi penulis?
Pertama ya aku pingin sampaikan sebenarnya masyarakat kita gak kurang-kurang banget minat bacanya. Tapi ketersediaan atau variasi bacaan kita yang masih kurang. Kita kalau mau beli buku aja ada semisal ada nih harganya pasti jauh banget sama di luar sana. Terus kalau mau pesan dari luar terkadang ongkir (ogkos kirim) lebih mahal ketimbang bukunya. Jadi malas duluan dong ya. Hehe itu kalau aku pribadi.
Nah dari situ juga sih salah satu yang memotivasi kemudian menjadi penulis. Untuk saat ini menulis adalah salah satu caraku mengapresiasikan diri yang sudah berani untuk menulis dan murni ingin berkarya. Jadi kalau misal laku berapa saja buku yang aku cetak itu sudah buat senang aja. Lebih tepatnya menulis belum aku arahkan ke komersil gitu. Dan aku juga melihat sasaran pasar sih. Saat ini kan lahi trending-nya quote-quote yang digunakan di akun sosmed anak-anak muda. Bahasa ringan dan sedikit mellow tuh lagi tren. Nah pas nulis dikemas dalam bentuk seperti ini. Sebagai daya tarik saja. Lebih ke strategi sih hihii.
Pendapat masyarakat soal penulis menurut kamu?
Sejauh ini aku melihat masyarakat kita cukup mengapresiasi penulis lokal kok. Ada yang akhirnya ingin juga menulis dan jadi suka nulis. Kan ikut senang juga.
Siapa yang memotivasi kamu jadi penulis?
Pertama diri aku sendiri, kedua dosen sekaligus Pembina aku di komunitas, ketiga orang-orang terdekat.
Sejauh ini berapa buku yang sudah ditulis?
Alhamdulillah sudah dua buku
Apa aja?
Setumpuk Rasa Cuek dan Kotak Suara Nisa.
Masing-masing karya dikerjakan berapa lama?
Kalau buku yang pertama itu kurang lebih dua tahun. Kalau buku yang kedua setahun.
Jenis buku yang ditulis?
Buku sastra. Antologi puisi dan beberapa kumpulan opini.
Tema favorit kamu sebagai penulis?
Gak ada tema khususnya. Mungkin lebih tepatnya aku nulis yang saat ini aku geluti. Seperti tema pendidikan, keperepuanan, pemuda hingga percintaan.
Kesulitan terbesar menjadi seorang penulis?
Melawan nafsu untuk untuk menulis terus dan ingin menulis semua yang ingin ditulis. Padahalkan kita butuh jeda. Jangan sampai karena nafsu ingin punya buku yang banyak sampai lupa esensi dari menulis atau menjadi seorang penulis.
Pencapaian terbaik selama jadi penulis?
Receh sih. Pencapaianku bisa ketemu penulis-penulis yang aku idolakan.
Ada rencana untuk menerbitkan buku lagi?
Iya
Mungkin ada tips yang bisa dibagi untuk teman-teman yang ingin jadi penulis?
Tips dari aku, jadikan menulis itu menjadi hal yang menyenangkan, selanjutnya tulis apa saja yang ingin teman-teman tulis., jangan menunda, dan jangan menuntut tulisan teman-teman untuk sempurna.
Penulis : Dicky
Grafis & Ilustrasi : J.O