Tamara Moriska, Legislatif Muda Dari Partai Hanura
Usia muda tak menyurutkan langkahnya untuk jadi wakil rakyat. Pada usia 23 tahun, Tamara Moriska dari Hanura berhasil lolos ke legislatif.
Anggota DPRD dari kalangan muda dan perempuan diharapkan mampu membawa warna baru khususnya bagi keterwakilan kelompok-kelompok yang selama ini tidak tersuarakan.
Bagaimana kemudian perjuangannya hingga bisa melenggang ke DPRD? Berikut wawancara tim narahubung.id bersama Tamara Moriska?
Halo Tamara
Halo juga…
Kenalin diri kamu secara singkat dong…
Nama saya Tamara Moriska, anak pertama dari lima bersaudara, status udah menikah, anak satu. hehehe
Saya lahir di Tarakan 1996. Dari kecil, SD sampai SMP itu di Nunukan. SMA di Jakarta dan kuliah di Bandung.
Yang memotivasi kamu terjun ke dunia politik?
Sebetulnya cita-cita saya dari SMP sih ini, kebetulan background keluarga saya di politik semua. Mulai dari kakek dulu Bupati di Nunukan (Abdul Hafid Ahmad), sekarang tante (Asmin Laura Hafid, Bupati Kabupaten Nunukan), kemudian bapak saya sempat Ketua DPRD Kabupaten Nunukan. pas bapak saya jadi Ketua DPRD disitu saya baru ada niatan suatu saat pengin jadi Ketua DPRD.
Diumur berapa secara praktis terjun ke dunia politik?
Awalnya saya aktif sebagai Ketua KNPI Nunukan di usia 20 tahun. Ditahun yang sama saya sudah aktif di dunia politik.
Keluarga mendukung pilihan kamu?
Sangat mendukung. Ga di politik juga sebenarnya didukung sama keluarga.
Apa kamu tidak terpengaruh dengan citra negatif yang sering disematkan ke politisi?
Selama aku merasa ngelakuin hal yang benar ga bertentangan dengan masyarakat dan ga merugikan ya ga masalah.
Selama perjalanan politik pasti banyak interaksi terutama dengan mereka yang lebih tua. Bagaimana kemudian kamu meyakinkan mereka?
Aku selalu ada buat mereka aja sebetulnya. Pernah ada yang tanya waktu itu. Katanya kan orang politik itu pintar ngomong, pintar ngedeketin orang gitu. Kalau aku sih heart to heart aja, ga basa-basi emang aku butuh dukungannya ya aku sampein.
Perjuangannya sampai bisa duduk di DPRD?
Sebetulnya sih kemaren itu karena pas hamil tua, bulan Februari itu kan masa kampanye ya, sedangkan suami maunya aku melahirkan di Bandung. Jadi selama masa kampanye aku ga ada di tempat. Alhadulillah sekarang jaman internet, itulah sarana aku.
Kedua, yang ngebantu proses aku ini di KNPI sebenarnya. Karena dari sini aku banyak mengenal masyarakat dan itu sudah berjalan sejak 2016.
Apa ada pesan khusus yang ingin disampaikan pada awal mencalonkan diri diusia yang terbilang sangat muda?
Lebih ke semangatnya sih karena masih anak muda ya, banyak ide-ide yang lebih fresh.
Sudah siap dengan konsekuensi jika suatu saat bakal disalahkan oleh pemilih kamu karena mendukung suatu kebijakan yang dianggap tidak pro masyarakat?
Harus terbiasa dengan hal seperti itu. Karena pengalaman politik saya melihat bagaimana kakek, bapak hingga tante saya itu jadi terbiasa kalau ada yang memberi masukan maupun kritik.
Selama setahun di DPRD hal yang paling menarik menurut kamu?
Karena ini pengalaman pertama aku, aku butuh penyesuaian. Misalnya yang kita baca secara teori itu beda sama yang terjadi di lapangan. Aku masih muda banget, misalnya ada yang aku ga tau ya blak-blakan aja nanya.
Terus, perbedaan umur yang cukup jauh dengan anggota yang lain juga ternyata tidak membatasi komunikasi kita. Jadi pada anggap Tamara itu seperti ade, anak.
Pendapat kamu soal keterlibatan anak muda di Politik?
Terjun ke politik itu tergantung niatnya. Misalnya, ingin mengambil peran untuk membangun Kaltara itu kan tidak harus di politik juga. Semua jenis pekerjaan jika dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti akan ada prestasinya.
Politisi idola kamu?
Kakek sama Bapak sih. Mereka selalu ada buat masyarakat dan tidak pernah lupa dengan keluarga. Semangat berjuang mereka yang selalu menginspirasi aku.
Pesan kamu buat kalangan muda dan perempuan yang ingin terjun ke dunia politik?
Kunci utamanya menurut aku pendidikan ya. Setelah itu mereka bisa berbuat untuk Kaltara sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing.
Penulis : Dicky
Grafis : Nanda