Yang Fana itu Pilkada, Kaltara (mungkin) Abadi

Penulis : Ariza Aditya

Saat mendengar Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta kita bisa membayangkan daerah itu asosiatif dengan daerah pendidikan. Sama halnya dengan Provinsi Bali, kita dengan mudah mengasosiasikan daerahnya dengan pariwisata.

Bagi dua provinsi tersebut, sebutan sebagai daerah pendidikan ataupun pariwisata menjadi penting. Hal itu terproyeksikan dengan model pembangunan yang akan ditempuh. Sebagai gambaran, Yogyakarta misalnya memiliki 9 universitas negeri -termasuk UGM sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia, 20 universitas swasta dan puluhan sekolah tinggi dan akademi. Dengan semangat dan visi menjadi daerah pendidikan, Yogyakarta tumbuh dengan sarana dan prasarana yang mendukung visi tersebut.

Pun demikian halnya dengan Bali. Sadar daerahnya memiliki potensi wisata yang diminati wisatawan domestik dan mancanegara, Bali pun tumbuh dengan sarana dan prasarana demi menunjang visi tersebut. Proyeksi pembangunannya adalah menciptakan infrastruktur dan ekosistem yang nyaman untuk kebutuhan pariwisata. Bandar udara (Bandara), penginapan, lebih-lebih tempat hiburan seolah berlomba menjadi yang paling baik di mata wisatawan.

Bagaimana dengan Kalimantan Utara?

Apa yang terlintas pertama kali saat mendengar provinsi termuda di Indonesia itu disebut? Kita bisa membayangkan banyak hal misalnya pendidikan, pariwisata, perdagangan, budaya atau mungkin juga kuliner. Semua tentu sah-sah belaka. Yang menjadi persoalan dan pertanyaan besar, kita belum punya visi besar untuk bisa dicapai bersama-sama. Katakanlah Kaltara ingin menjadi daerah perdagangan, apa yang sudah dilakukannya untuk mencapai itu? Apakah masyarakat terlibat secara aktif dalam rangka mewujudkan mimpi itu? Apa indikatornya dan bagaimana cara mewujudkannya? Pertanyaan- pertanyaan itu haruslah dijawab terlebih dahulu sebelum memulai pembangunan.

Tentu saja proyeksi pembangunan yang dimaksud tidak semata-mata pembangunan dari nol. Kita juga bisa memanfaatkan sarana atau prasarana yang sudah tersedia. Dari sarana & prasarana yang sudah tersedia itu, apa yang kira-kira bisa kita kembangkan? Misalnya untuk pengembangan sektor pariwisata, Kota Tarakan punya bandara dan pelabuhan, namun pariwisatanya terbatas. Sementara kota/kabupaten lain di Kaltara punya pilihan pariwisata lain. Maka, idealnya pembangunan untuk mendukung sektor pariwisata haruslah pembangunan yang memanjakan wisatawan berkunjung ke berbagai daerah di Kaltara.

Sebagai contoh, kita bisa mengembangkan model “One Day Trip” atau perjalanan singkat satu hari. Di mana, sang wisatawan bisa mendarat di Bandara Juwata Tarakan, lalu dalam sehari ia bisa berwisata ke dua-tiga tempat lain di luar Tarakan. Dengan contoh demikian, kota/kabupaten di Kaltara bisa berlomba-lomba menampilkan jualan pariwisatanya agar menarik untuk disinggahi wisatawan.

Transportasi yang digunakan juga bisa melalui darat, laut atau udara. Semua itu memungkinkan sepanjang proyeksi pembangunan dan visinya jelas. Juga tak lupa melibatkan masyarakat dalam rangka mewujudkan visi tersebut.

Masyarakat menjadi kata kunci penting dalam pembangunan. Karena sejatinya pembangunan memang ditujukan untuk masyarakat, untuk distribusi kesejahteraan serta untuk pemerataan sosial.

Mencari Peluang lewat Pilkada

Semua model, mekanisme atau proyeksi pembangunan yang akan kita tempuh kelak, akan selamanya jadi mimpi belaka tanpa adanya nakhoda yang mumpuni. Kaltara haruslah memiliki pemimpin yang dengan kerja keras dan visinya, bisa memimpin orkestrasi pembangunan di Kaltara. Maka mulai sekarang, sebagai calon pemilih kita bisa menimbang-nimbang akan seperti apa Kaltara yang kita bayangkan kelak di masa depan, dan siapa kira-kira yang bisa memimpin perwujudannya.

Tentu saja, pilkada dengan segala hiruk-pikuk dan riuh-rendahnya hanya salah satu cara mencari peluang tersebut. Situasi panas dan manuver-manuver politik yang dipertontonkan mungkin juga akan mereda. Berkaca kembali pada Daerah Istimewa Yogyakarta & Bali, sebutan daerah pendidikan & pariwisata pada keduanya tak lekang walaupun pemimpinnya silih berganti.

Pada akhirnya, Kaltara harus tetap tumbuh siapapun yang kelak akan menakhodainya. Dan yang paling penting adalah bagaimana kita memiliki kesamaan pandangan dan visi pembangunan untuk Kaltara. Meminjam potongan kalimat populer milik Pak Sapardi sambil dimodifikasi dengan konteks tulisan ini, memang benar sepertinya: Yang fana itu pilkada, Kaltara (mungkin) abadi. (*)

Berita Lain