Puncak Drajat, Ecowisata di Tengah Kebun Sawit

Penulis : Muhammad Nor Gusti

PERJALANAN bervespa menuju batas negara di Pulau Sebatik cukup menghiasi penglihatan. Dan kesempatan ini kami manfaatkan untuk menggali potensi wisata yang ada di Kaltara. Di mana niat itu sudah kami tanamkan jauh saat bertolak dari Tanjung Selor.

Alhasil Tuhan seakan-akan selalu merestui perjalanan kami dengan menunjukkan keindahan alam yang ada di provinsi bontot ini. Iya, kami bersyukur lahir dan besar di Kaltara dengan segala keindahannya. Salah satunya adalah Puncak Drajat di Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan.

Puncak Drajat, adalah salah satu areal seluas 4 hektar yang dikelola pribadi oleh Pak Mul. Kami sapa Pak Mul beliau dikenal sebagai Kepala Desa Semunad, yang bersebelahan desanya dengan lokasi puncak drajat. Puncak Drajat sendiri berada di Desa Makmur ini memiliki nama lain yakni Petak 17.

Nama Petak 17 itu sendiri diambil dari nama sebuah lokasi camp perusahaan perkebunan sawit yang beroperasi tidak jauh dari areal. Dari Puncak Drajat camp tersebut dapat terlihat begitu jelas. Selain itu, nama tersebut juga cukup akrab di telinga masyarakat setempat yang berguna untuk memudahkan pelancong yang tidak mengetahui jalan menuju Puncak Drajat.

Awalnya, kami tidak begitu tertarik ketika ada teman yang menawarkan tempat untuk sekadar beristirahat malam di sana. Maklum, bervespa tentu saja siap untuk istirahat di mana saja, dengan kata lain tidur di atas tumpukkan kayu pun jadi asalkan bisa sekadar beristirahat.

Tentu saja kondisi Puncak Drajat di malam hari berbeda dengan pagi harinya. Malam hari kami hanya melewati jalan yang gelap gulita tanpa penerangan di antara belantara perkebunan kelapa sawit.

Belum lagi sesekali melewati tanjakan bebatuan yang sedikit licin. Padahal sebelum masuk ke persimpangannya, mata kami cukup termanjakan dengan kondisi jalan nasional kalimantan yang mulus.

Kira-kira 15 menit, kami tiba di Puncak Drajat. Lagi-lagi malam hari, tidak ada yang istimewa bagi kami, karena tidak terlihat begitu jelas. Hanya bulan sabit yang sedikit mengobati mata kami.

Karena belum mandi, sebagian teman-teman langsung menjajal kolam renangnya serta ada yang beristirahat di gazebo dan kaki lima warungnya.

Paginya, siapa sangka pemandangan berubah. Awalnya pada malam hari kami anggap ini biasa-biasa saja berubah menjadi istimewa. Kita bisa melihat keindahan alam di Tulin Onsoi dari ketinggian yang ada di Puncak Drajat.

Gunung-gunung yang hijau seperti pada bait syair Mars Kaltara memang benar kelihatan dari sini. Belum lagi suasana sejuknya, membuat kami larut dalam kenikmatan yang tiada tara. Rasa lelah semalaman berjalan, terbayarkan pada pagi harinya. Dan tentu saja, banyak spot foto yang instagramable untuk diunggah ke platform media sosial. (*)

Berita Lain